Lalu, setelah dapat mengenal diri sendiri dan mulai menjalin hubungan dengan Allah dan mengenal pokok-pokok ajaran agama Islam, bagaimana penerapannya dengan spiritualitas dalam pekerjaan?
Spiritualitas dalam bekerja adalah jiwa, makna, motif dalam sebuah pekerjaan. Maka orang yang bekerja spiritual adalah orang yang ikhlas dalam bekerja. Kemurnian seseorang ada pada fitrahnya dan fitrah manusia adalah memiliki kerinduan kepada Allah, ingin dekat dengan Allah. Dengan kata lain, bekerja yang spiritual adalah bekerja yang memiliki kekayaan makna, sarat dengan motif-motif kemuliaan, dan tujuan akhirnya adalah dalam rangka menggapai ridho Allah SWT. Cara penerapan spiritualitas dalam bekerja adalah dengan tiga langkah, yaitu : Pertama, setting niat yang penuh makna dalam bekerja; Kedua, perbanyak berdzikir baik dengan lisan maupun dengan qalbu; dan Ketiga meyakini bahwa tanggung jawab utama bekerja adalah kepada Allah SWT.
COME
Spiritualitas dalam bekerja terdiri dari 2 aspek yang kami singkat menjadi COME: Connectedness, Meaningfulness.
Connectedness adalah ketersambungan. Bukan hanya ketersambungan kepada sesama manusia tetapi juga ketersambungan secara ruhani kepada Allah.
“Mereka ditimpakan kehinaan dimanapun mereka berada kecuali dengan berpegang teguh kepada tali Allah dan tali manusia” (QS. Ali Imran:112).
Tanpa connectedness dengan manusia dan Allah, manusia hanya menderita kegagalan. Seperti kisah seorang Ayah pergi keluar kota dalam waktu lama, meski ia berada diluar kota namun ia sering menghubungi anaknya baik via telepon, SMS, BBM maupun skype. Setiap hari minimal tiga kali sehari berkomunikasi secara berkualitas dengan anaknya, meski ayah dan anak terpisahkan oleh jarak yang jauh namun mereka merasa dekat satu sama lain. Sang anak merasa tetap diperhatikan oleh ayahnya, tetap memperoleh kehangatan kasih sayang ayahnya anak tersebut tetap tersambung (connectedness) dengan ayahnya.
Orang yang tersambung ruhaninya kepada Allah, dia akan memiliki beberapa dampak positif. Antara lain yaitu: Pertama, merasa dekat dengan Allah. Jika seseorang tersambung kepada Allah, pasti ia merasa dekat dengan Allah, kalau sudah dekat dengan Allah maka akan muncul beberapa kondisi mental positif dalam diri kita antara lain: merasa diawasi, tentram, dan terbimbing Allah. Jika seseorang merasa diawasi Allah maka akan muncul beberapa karakter positif seperti jujur, disiplin, amanah, semangat dll. Seorang anak balita akan tentram kalau dekat dengan ibunya, orang dewasa akan tentram kalau ia merasa dekat dengan Allahnya, kedekatan dengan Allah menghasilkan ketentraman bathin. Jika seseorang memiliki ketentraman, maka ia akan lebih jernih dalam berpikir, kepribadiannya matang, mudah mengendalikan emosi, sehat, terhindar dari stress dan pada akhirnya ia menjadi lebih produktif. Orang yang dekat dengan Allah akan terbimbing hidupnya oleh Allah, Allah terlibat dalam kehidupan kita baik ketika kita dikantor dijalan maupun dirumah. Ketika Allah terlibat dalam kehidupan kita maka hidup kita akan berkah, berbagai keberkahan akan kita terima apapun kejadian yang kita alami.
Kedua, meningkat cintanya kepada Allah, cinta adalah kunci keikhlasan karena keikhlasan yang sejati adalah keikhlasan yang timbul dari rasa cinta. Tanpa cinta kepada Allah , keikhlasan hanyalah sikap yang semu dan jargon semata. Saat Jibril bertanya kepada Allah tentang ikhlas, Allah menjawab ikhlas adalah:
“Satu rahasia dari rahasia-rahasiaku yang aku titipkan kepada qalbu orang yang aku cintai dari hamba-hambaku”
Orang yang cinta kepada Allah melaksanakan pekerjaannya dengan upaya terbaik dan mempersembahkan pekerjaannya sebagai pengabdian kepada Allah. Orang yang spiritual adalah orang yang ikhlas dalam bekerja.
Meaningfulness berarti memiliki makna yang kaya akan makna. Orang yang bekerja dengan memandang bahwa dibalik pekerjaannya ada kekayaan makna, maka akan muncul dari dirinya beberapa karakter positif antara lain: Apresiasi tinggi terhadap pekerjaannya kalau orang sudah mengapresiasi pekerjaannya, maka akan timbul semangat, antusias, energinya besar , minim keluhan dalam bekerja, tidak mudah putus asa, tuntas dalam bekerja dll. Orang yang spiritual adalah orang yang mengapresiasi pekerjaannya.
Mengapa Spiritualitas Kerja Perlu Dilatihkan?
Didalam diri manusia, ada tiga kekuatan dalam dirinya yang jika tidak dilatih maka akan merusaknya dan merusak orang lain yaitu kekuatan syahwat (yaitu kekuatan yang tidak muncul darinya selain perbuatan-perbuatan kebinatangan, berupa penyembahan pada kelamin dan perut, serta keinginan kuat pada hubungan biologis dan makan); kekuatan emosi negatif (marah, dengki, dendam, benci dll) dan kekuatan jiwa yang dapat mengantarkan seseorang menjadi baik atau buruk tergantung yang mengendalikannya; juga untuk memaksimalkan kekuatan akal sehingga dapat meningkatkan spiritualitas kerja seseorang.
Qalbu
Obyek dari pelatihan spiritualitas kerja adalah qalbu, hati nurani. Menurut KH. Wahfiudin Sakam, SE, MBA (2012) bahwa pusat kecerdasan dan pusat spiritualitas manusia bukan otak melainkan qalbu. Kekeliruan bahwa otak sebagai pusat berfikir, pusat kecerdasan dan pusat spiritualitas bermula dari doktrin lama ilmu saraf yang diperkenalkan oleh Santiago Y Cajal pada tahun 1913, Doktrin itu menyatakan “Pusat jalur saraf pada orang dewasa cenderung menetap, inal, dan tidak berubah”. Sebagai peraih Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran tentu pendapatnya menjadi dogma dalam ilmu saraf hingga hampir satu abad.
Uraian dari doktrin itu adalah karena struktur otak terbentuk pada masa bayi, maka setelah itu otak hanya berubah sedikit dan tidak ada neuron baru terbentuk pada otak dewasa. Struktur dan Fungsi otak tidak bisa diubah ! maka apa yang terjadi? Semua buku yang membahas otak memuat ilustrasi yang berlebihan tentang struktur otak, area, fungsi, dan ukurannya, dengan warna tinta yang mencolok, seperti kepastian yang tak berubah.
Jika pun ada perubahan atau tambahan, itu terjadinya hanya particular di bagian kecil saja. Terjadi jika seseorang melakukan aktivitas “mempelajari dan mengingat” berupa tambahan bentuk Axon (cabang pengirim dari neuron), Dendrite (cabang penerima dari neuron) Synapse (sambungan antar neuron) serta memperkuat synapse yang sudah ada. Tidak mengubah struktur dan fungsi yang ada!
Akibat diterapkannya doktrin ini selama berpuluh-puluh tahun masyarakat menjadi pesimis! Seperti tidak ada harapan bagi orang yang kena stroke untuk sembuh karena tidak mungkin rehabilitasi bagi otak orang dewasa yang rusak akibat stroke; juga tidak mungkin memperbaiki sinaps yang patologis, penyebab gangguan psikiatrik (OCD, depresi).
Willian James (1842-1910), bapak psikologi eksperimental di AS, pertama kali memperkenalkan kata plastisitas kedalam ilmu otak. Menurutnya “Materi Organik” khususnya jaringan saraf, diberkahi tingkat platisitas yang luar biasa. Otak juga memuat manifestasi dari: kepribadian/karakter, pengetahuan, emosi, ingatan, keyakinan.
Dari penelitian yang terbaru, otak dapat berubah (neuroplastisitas), yaitu: pertama, menumbuhkan neuron baru, mengganti fungsi dan tugas neuron tertentu dengan neuron lain; kedua, membentuk penghubung baru, mengaktifkan penghubung lama yang sudah tertidur, memotong penghubung yang patologis; ketiga, membentuk sirkuit baru, mengubah dan menghentikan sirkuit yang terganggu; keempat, mengembangkan memperbaiki mengalihkan fungsi area.
Penelitian yang terbaru tersebut juga menyatakan bahwa perubahan otak dapat dipicu oleh Pengalaman Sensorik Eksternal, seperti: melihat, mendengar, membaui, pengecapan, rabaan/senAllah; dan oleh Aktivitas Mental Internal, misal: berfikir bermain piano.
Walau otak bisa berubah tetap saja otak hanya sebagai reseptor (penerima) atau kontroler (pengontrol). Namun, fungsi sebagai reseptor atau kontroler hanya pada penerimaan dari luar berupa Pengalaman Sensorik Eksternal. Lalu, siapa atau apa yang melakukan Aktivitas Mental Internal sehingga dapat merubah otak? Jawabannya: Qalbu!
Qalbulah yang melakukan Aktivitas Mental Internal. Qalbu adalah pusat kesadaran, perasaan, kecerdasan, keyakinan, dan kemauan. Maka dengan qalbulah sebenarnya manusia berpikir, dan qalbu adalah inti dari kemanusiaan! Tapi, apa itu qalbu?
Orang Jawa dan Sunda menyebut qalbu dengan istilah manah. Sedangkan orang Malaysia karena lama dijajah oleh Inggris menyebutnya dengan minda asal kata dari bahsa Inggris , mind. Dalam bahasa Indonesia, kita sering menyebutnya dengan hati nurani atau hati sanubari.
Menurut KH. Wahfiudin Sakam (2012) bahwa banyak yang menyangka bahwa qalbu itu adalah lever karena qalbu disebut dengan hati. Padahal, dalam bahasa Arab istilah qalbu digunakan untuk menyebut banyak hal, isi, bagian dalam, bagian tengah, dan untuk menyebut sesuatu yang murni bukan untuk menyebut organ tubuh yang disebut hati. Sedangkan untuk organ hati itu digunakan term al-kabid. Adapun didalam Al-Quran, qalbu diartikan sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai seperti yang tersebut dalam Al Quran surat ke 22 (Al-Hajj) ayat 46, atau pada surat ke 7 (Al-Araf) ayat 179, dalam ayat tersebut qalbu mempunyai potensi yang sama dengan akal.
Ada beberapa hadist yang menerangkan tentang qalbu. Salah satunya hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dimana Rasulullah SAW bersabda “Ingatlah! Bahwa didalam tubuh itu ada segumpal mudghah, bila mudghah itu baik akan baiklah seluruh tubuh itu, dan bila mudghah itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Mudghah itu adalah Qalbu.
Dari hadist diatas, perlu dipahami bahwa yang dimaksud mudghah itu bukan qalbu tetapi qalbu letaknya di mudghah. Seorang ahli forensic berkali-kali membedah dada penjahat yang telah menjadi mayat tidak pernah melihat warna jantung para penjahat yang dibedahnya tersebut berbeda warna dengan jantung orang yang baik budi pekertinya. Juga tidak ditemukan kerusakan jantung akibat perbuatan jahat mereka selama masih hidup. Jadi, yang dimaksud oleh Rasulullah SAW tentang qalbu di mudghah yang rusak pada hadist tersebut apa?
Menurut Imam Al-Ghazali (2008), qalbu dapat berarti dua macam yaitu qalbu dalama arti jasmani dan qalbu dalam arti ruhani. Qalbu dalam arti ruhani merupakan esensi manusia, adapun yang dimaksud qalbu dalam pembahasan Imam Al-Ghazali adalah bukan qalbu dalam pengertian jasmani yang berupa benda sebagai alat yang terletak didalam dada kiri manusia. Pengertian Mudghah sebagai daging, dan qalbu sebagai qalbu yang halus yang tidak terlihat oleh mata yang memiliki fungsi berfikir dan memahami sesuatu merupakan pendapat sebagian besar ulama termasuk Imam Al-Ghazali. Jadi, fungsi qalbu menurut pengertian Islam sangat berbeda dengan fungsi jantung dalam dunia kedokteran. Jadi qalbu yang dimaksud oleh Rasulullah yang rusak tersebut adalah qalbu yang halus dan tidak terlihat oleh mata.
Menurut Imam Al-Ghazali, letak qalbu itu didalam daging jantung dalam wujud yang halus, rabbaniyah (keAllahan), ruhaniyah (keruhanian) dan mempunyai keterkaitan dengan fisik jantung. Wujud halus inilah hakikat manusia yang mengetahui, mengerti, dan yang mengenal diri sendiri. Dialah yang diajak bicara, disiksa, dicela, dan dituntut oleh Allahnya.
Adapun cara kerja qalbu sebagai pusat kecerdasan adalah sebagai berikut, yaitu: Pertama, adanya stimulus yang diserap oleh panca indera; kedua, panca indra mengirim sinyal kepada otak sebagai saraf sensorik, otak pun menerjemahkan stimulus tersebut; ketiga, kemudian otak mengirimkan hasil terjemahannya tersebut kepada qalbu atau jiwa. Qalbulah yang akhirnya memahami stimulus yang diberikan; keempat, selanjutnya qalbu mengirimkan perintah kepada otak untuk melakukan sesuatu; kelima, otak dengan saraf motoriknya memerintahkan organ tubuh tertentu untuk melakukan sesuatu.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi qalbu disebut stimulus, yaitu: suara, gerak, cahaya, aroma, temperatur, makanan, tidur, seks.
Penjelasan Mind, minda, manah, atau qalbu dapat mengubah otak dapat kita temukan dalam penjelasan buku yang berjudul Train Your Mind, Change Your Brain: How a New Science Reveals Our Extraordinary Potential To Transform Ourselves karya Sharon Begley berikut ini.
Train Your Mind , Change Your Brain
Ketika ilmu pengetahuan dan agama selalu dibenturkan, Dalai Lama justru memilih melakukan pendekatan berbeda. Tiap tahun Lama mengundang sekelompok peneliti ke kediamannya di Dharamsala, India Utara mereka diundang untuk mendiskusikan mengenai pekerjaannya dan bagaimana Buddhisme mungkin dapat berperan. Para ilmuwan kemudian melaporkan pekerjaan mereka, termasuk menyelidiki biksu-biksu Buddha dengan arahan Dalai Lama.
Dia dan para sarjana Buddha juga membicarakan mengenai pengalaman mereka sendiri tentang bagaimana latihan mental dapat membentuk ulang otak. Setelah itu, terbitlah buku baru berjudul “Train Your Mind, Change Your Brain” atau “Latihan Pikiranmu, Ubah Otakmu” yang menggambarkan pertemuan di Dharamsala dan ilmu pengetahuan yang terkuak dibelakangnya. Buku itu ditulis Sharon Begley.
Menurut Lama, pakar otak selalu kesulitan menjelaskan kemungkinan bahwa pikiran yang dihasilkan otak dapat juga berpengaruh melakukan perubahan di otak. Dengan kata lain, pikiran dapat berbalik merubah aktivitas, dengan struktur otak. Pada titik ini, pakar otak mengatakan tidak mungkin pikiran dapat mengubah struktur otak “Tapi saya terus memikirkanya bahwa belum ada dasar ilmu pengetahuan untuk membenarkan klaim tersebut. Saya sangat tertarik dengan pikiran itu sendiri, dan pikiran yang tak tampak mungkin dapat berpengaruh pada otak “, ungkap Lama. Maka, Dalai Lama pun mengawali revolusi penelitian otak.
Sejak 1990-an, Dalai Lama mengirimkan biksu-biksu Buddha untuk mengikuti penelitian otak. Semua biksu itu telah memiliki jam terbang meditasi yang panjang, sedikitnya 10.000 jam meditasi hingga lebih dari 55.000 jam. Satu persatu mereka dites di laboratorium otak Professor Richard Davidson di University of Wisconsin, Madison, AS. Sebanyak 256 kawat elektroda dipasang menempel dikulit kepala mereka, kawat itu dihubungkan electroencephalograph yang berfungsi merekam gelombang otak. Gelombang gamma muncul dengan meditasi, bahkan ketika mereka beristirahat diantara meditasi, gelombang gamma masih bekerja diotak dan meskipun tidak bermeditasi otak mereka berbeda dari otak orang yang tak pernah bermeditasi. Dan ketika beberapa jam latihan meditasi gelombang gamma bisa muncul dan menguat. “Itu memberi kami kepercayaan diri bahwa perubahan struktur otak dihasilkan dengan latihan mental” ungkap Profesor Richard Davidson.
Profesor Richard Davidson menggunakan FMRI untuk mendeteksi wilayah otak para biksu yang aktif ketika bermeditasi, otak biksu itu bekerja di daerah emosi, pengatur gerak, rasa positif, dan bahagia. Dengan meditasi itu mereka menjadi tenang, terbuka pikiran, dan hati untuk orang lain. Di wilayah itu pula emosi negatif, kesedihan, dan kegelisahan mereda maka itu dapat menjelaskan mengapa rahib dan orang biasa berbeda, para rahib banyak mengaktifkan wilayah otak yang disebut insula dan caudate kanan. Daerah itu berhubungan dengan kontrol emosi sehingga seseorang lebih berempati dan mencintai.
Biksu dengan praktek meditasi lebih dari 55.000 jam menunjukkan perubahan otak yang sangat dramatis, latihan mental yang ketat itu telah membuat otaknya menciptakan empati dan belas kasih. “Ini pencapaian positif bahwa keahlian itu dapat dilatih. Penelitian sebelumnya berpegang bahwa respons emosi merupakan kemampuan statis pada orang dewasa, tapi penemuan ini menunjukkan bahwa meditasi dapat mengubah fungsi otak dalam jangka yang panjang.” Ungkap Profesor Richard Davidson
Manfaat Penerapan Spiritualitas Dalam Bekerja
Menurut Tb. Sjafri Mangkuprawira (2011) bahwa orang-orang yang bekerja dalam sebuah perusahaan yang memiliki spiritualitas kerja akan menimbulkan iklim kerja yang nyaman yang merupakan harapan semua elemen organisasi tidak kecuali di lingkungan perusahaan.
Kondisi kerja yang nyaman dicirikan oleh hubungan sosial antar mitra kerja yang baik seperti terjalinnya kerjasama, dan kecilnya konflik yang terjadi. Dalam konteks praktek kerja para karyawan memiliki kedisiplinan dan komitmen kerja tinggi yang didukung dengan kepemimpinan bergaya membangun motivasi dan kemitraan, selain itu kenyamanan suasana kerja bisa terwujud karena kentalnya suasana spiritual.
Suasana spiritual tercermin dari adanya interaksi antarpelaku organisasi yang positif dan dinamis, mereka memiliki pandangan yang cenderung sama yakni bekerja itu adalah ibadah. Pemahamannya bahwa bekerja bukan saja sebagai salah satu jalur untuk menciptakan kesejahteraan namun sebagai bentuk pengabdian pada Allah, keluarga, masyarakat dan tentu saja pada organisasi. Dalam konteks kinerja maka pemahaman tersebut sebagai kecerdasan spiritual (SQ).
SQ mempunyai kaitan dengan kreativitas, tetapi kreativitas disini juga terkait dengan masalah nilai. Dikatakan bahwa SQ memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi, bermoral baik, menentukan baik dan jahat, memberi gambaran atau bayangan kemungkinan yang belum terwujud. SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.
SQ (Spiritual Quotient) adalah proses-proses transendensi (penyeberangan, pelampauan) terutama dari wilayah material menuju wilayah spiritual. Dalam hal ini kerja tidak lagi dimaknai hanya sekadar kegiatan mencari nafkah tetapi dihayati sebagai amal bagi sesama dan ibadah kepada Allah. Untuk itu kita perlu mempertebal iman dan taqwa, membangun akhlak dan pekerti yang mulia dan terpuji, serta mengutamakan berkah dan perkenan Allah agar hidup kita lebih bermakna, penuh sukacita dan damai sejahtera, sehingga sukses dunia akhirat.
Dalam rangka membangun kehidupan spiritual di lingkungan kerja maka sebaiknya manajer atau bahkan manajemen puncak menjadikannya sebagai misi dan program perusahaan. Banyak jalur untuk itu antara lain dalam bentuk pelatihan tentang pemaknaan dan penerapan kecerdasan spiritual (SQ) dalam hubungan sosial dan dalam pekerjaan. Kemudian diskusi-diskusi kelompok juga bisa diadakan secara rutin dan terprogram, mengikut sertakan para manajer dan karyawan dalam pelatihan, pendidikan, dan seminar-seminar yang bertemakan hubungan kinerja dengan SQ sangat dianjurkan. Bahkan dalam rangka upaya meningkatkan iman dan takwa, perusahaan pun ada yang mengirimkan para manajer dan karyawan untuk menunaikan wisata rohani menurut kepercayaan masing-masing.
Bagaimana Spiritualitas Kerja Bisa Ada, Selalu Ada Dan Terus Meningkat?
Agar spiritualitas kerja kita bisa ada, selalu ada (lestari) dan terus meningkat maka caranya dengan menggunakan Multiple Motives, Spiritual Practices, Spirituality Magnet, Sustainable Effort, Gratitude, dan Prayer.
19 Mei 2017