Banyak sekali hadits Nabi yang menyebutkan keutamaan dan keistimewaan shalat Dhuha bagi mereka yang melaksanakannya. Bahkan keutamaan yang dimilikinya tidak bisa ditakar oleh nominal berapa pun. Dengan menggali keutamaan yang dikandung shalat Dhuha, kita diharapkan tidak hanya menjadikkannya sekadar pengetahuan, tetapi lebih lanjut dari itu justru menjadi motivator dan penggugah semangat untuk senantiasa mengerjakannya.
Berikut ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak keutamaan yang dikandung shalat Dhuha:
Shalat Dhuha memiliki nilai seperti amalan sedekah yang diperlakukan oleh 360 persendian tubuh kita, dan orang yang melaksanakannya akan memperoleh pahala sebanyak sejumlah persendian tersebut.
Rasulullah saw. bersabda, “Pada setiap tubuh manusia diciptakan 360 persendian, dan wajib bagi pemilik sendi tersebut bersedekah untuk setiap sendinya. Lalu para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang sanggup melakukannya?’ Rasulullah menjawab, ‘Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya. Apabila ia tidak mampu, mak shalat Dhuha dua rakaat dapat menggantikannya.” (H.r. Ahmad bin Hanbal dan Abu Dawud)
Bayangkan, jika satu kali saja melaksanakan shalat Dhuha dapat menghasilkan 360 pahala, alangkah besar jumlah pahala yang kita kumpulkan jika tidak pernah terputus melaksanakannya.
Dalam redaksi lain disebutkan: “Hendaklah masing-masing darimu setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah. Dan cukup mengantikan itu semua dua rakaat yang dilaksanakan di waktu dhuha.” (H.r. Muslim, Ahmad, Abu Dawud)
Memang, Shalat Dhuha bukan segalanya. Ia bukanlah satu-satunya amalan yang bernilai sedekah dan berbuat pahala. Sebagaimana sabda Nabi di atas, ada banyak amalan lain yang juga bernilai sedekah. Ucapan subhanallah (tasbih), alhamduillah (tahmid), la ilaha illallah (tahlil), Allahu akbar (takbir), dan beramar ma’aruf nahi munkar juga termasuk sedekah. Namun demikian, kedudukan shalat Dhuha tetap saja istimewa, karena ia memiliki nilai yang sepadan dengan semua amalan tersebut dan cukup menjadi pengganti semuanya.
Allah swt. telah berjanji pada setiap mukmi yang tekun melaksanakan shalat Dhuha, akan mencukupi apa yang menjadi kebutuhannya. Setidaknya hingga sore hari. Janji Allah tersebut dapat ditemukan dalam sebuah hadits qudsi (hadits yang maknanya dari Allah, tetapi redaksinya atau kalimatnya dari lisan Nabi saw.).
Nu’aim bin Hammar berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. berkata: Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari (shalat Dhuha), karena akan aku cukupi kebutuhanmu hingga sore hari’.” (H.r. Abu Dawud)
Dalam redaksi lain yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, bershalatlah untuk-Ku empat rakaat pada permulaan siang, niscaya akan Aku cukupi kebutuhanmu pada sore harinya’.”
Ampunan Allah swt. terbentang luas, melebihi luasnya alam semesta. Bahkan, melebihi batas jarak yang kita ketahui. Sebesar apa pun dosa kita, namun jika kita mau bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubatan nashuha) maka Allah memberikan ampunan dan kasih sayang-Nya. Allah selalu mengampuni dosa-dosa hamba-Nya selama sang hamba tidak menyekutukan-Nya, karena syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni.
Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia terlah berbuat dosa yang besar.” (Q.s. An-Nisa’ [4]: 116)
Anas bin malik meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang masih berdiam diri dalam masjid atau tempat shalatnya setelah melakukan shalat Shubuh sampai melakukan dua rakaat shalat Dhuha, tidak mengatakan sesuatu kecuali kebaikan maka dosa-dosanya akan diampuni sekalipun banyaknya melebihi buih di lautan.” (H.r. Abu Dawud)
Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah istana di dalam surga, sebagaimana sabda Nabi yang dikisahkan oleh Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya istana di surga.” (H.r. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits hasan)
Dijelaskan pula oleh beliau saw., “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami`: 634)
Dan Abu Umamah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah.” (Shahih al-Targhib: 673)
Hadits di atas lagi-lagi memperlihatkan kedudukan shalat Dhuha yang tinggi bersaing dengan shalat wajib dalam hal pahala. Bahkan, dalam hadits yang lain disebutkan bahwa pahala shalat Dhuha tidak hanya sepadan dengan umrah, tetapi juga sepadan dengan haji dan umrah apabila dikerjakan secara berkesinambungan dengan shalat fajar (Shubuh) dan dzikrullah yang dikerjakan sebelum pelaksanaan shalat Dhuha tersebut.
Dari Anas bin Malik, nabi saw. bersabda, “barangsiapa shalat Shubuh berjamaah kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat (Dhuha), maka baginya seperti pahala haji dan umrah; sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.” (H.r. Tirmidzi)
Dari Abdullah bin Amar bin Ash r.huma., ia berkata, “Rasulullah saw. mengirim sebuah pasukan perang. Beliau bersabda, ‘Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!’ Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah berkata, ‘Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan)nya, dan cepat kembalinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya!’ Rasul berkata lagi, ‘Barangsiapa yang berwudhu kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dialah yang paling dekat tujuannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya, dan lebih cepat kembalinya’.” (Shahih al-Targhib: 666)
Dalam hadits tersebut, Rasulullah membandingkan orang beriman yang melaksanakan shalat Dhuha dengan para pejuang Islam yang bertempur di medan perang, yang berjarak dekat dengan tempat tinggal mereka lalu kembali lagi dengan cepat ke kampung halaman mereka seraya membawa ghanimah (keuntungan/harta rampasan perang) yang banyak dan menuai kemenangan yang gemilang. Bahkan, menurut Rasulullah, keuntungan yang diperoleh orang yang melaksanakan shalat Dhuha akan lebih banyak bila dibandingkan dengan keuntungan (ghanimah) yang dibawa oleh para pejuang di medan perang.
Ketika memulai segala aktivitas pagi hari dengan shalat Dhuha secara tulus dan ikhlas semaa karena Allah, berarti kita telah menggenggam niat dan tekad untuk selalu berkelakuan baik, berbuat kebajikan, dan menghinari kemungkaran selama bekerja. Bersamaan dengan itu, segala hal yang akan menggiring kita ke pintu neraka akan teredakan, dan pada akhirnya kita pun akan terjauhkan dari jilatan api neraka.
Hal ini sesuai sabda Nabi saw., “Barangsiapa melakukan shalat Fajar, kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya sambil berzikir hingga matahari terbit kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat niscaya Allah akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.r. Baihaqi)
Penghargaan lain untuk kaum beriman yang melanggengkan shalat Dhuha adalah disediakan pintu khusus di surga kelak, yakni suatu pintu yang disebut Bab adh-Dhuha (pintu Dhuha). Sambutan Sang Pengsih secara spesial ini tentu membutuhkan perjuanggan untuk meraihnya, yakni dengan menunaikan shalat Dhuha secara rajin, lurus (benar), dan ikhlas.
Benarkah demikian? Ya, karena Rasulullah sendiri telah bersabda:
“Di dalam surga terdapat pintu yang bernama Bab adh-Dhuha (pintu Dhuha), dan pada hari Kiamat nanti akan ada yang memanggil, ‘Di mana orang yang senantiasa mengerjakan shalat Dhuha? Ini pintumu, dan masuklah ke dalamnya dengan rahmat Allah’.” (H.r. Thabrani, al-Mu’jam al-Ausath, Juz V)
Bagi Anda yang memiliki amalan rutin shalat Dhuha setiap hari, maka Anda akan mendapatkan beberapa kautamaan di atas dan akan menempati kedudukan istimewa sesuai kadar rakaat yang Anda dirikan. Diriwayatkan oleh al-Syaibani dalam al-Ahad wa al-Matsani dan al-Baihaqi, kedudukan orang yang mengerjakan shalat Dhuha berdasarkan rakaat yang didirikannya adalah sebagai berikut:
Secara esensial, shalat Dhuha merupakan ‘jalan alternatif’ menuju kakayaan hidup. Ia diindentikkan sebagai shalat pembuka pintu rezeki dan penolak kemiskinan. Namun, perlu ditegaskan, bahwa rezeki dalam hal ini bukan berarti harta benda semata tetapi meliputi segala bentuk kenikmatan, seperti kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, dan seterusnya. Sedangkan maksud dari ‘penolak kemiskinan’ bukan hanya miskin harta, tetapi meliputi pula segala bentuk kemiskinan, seperti terbelit hutang, dihimpit kesulitan, ditimpa musibah, perasaan gundah dan resah, dicekam ketakutan, dan seterusnya.
Benarkah shalat Dhuha adalah shalat kekayaan? Tidak salah, namun tidak juga seluruhnya benar Shalat adalah ekspresi ketundukan dan penghambaan kita kepada Allah. Ini adalah tujuan utama shalat Dhuha kita. Adapun tentang kekayaan dan sebagainya, itu hanyalah buah keridhaan Allah atas shalat kita sehingga Dia memberi segala sesuatu yang terbaik menurut pandangan-Nya. Jika kekayaan adalah terbaik untuk kita, maka Ia akan memberi kita kekayaan. Tetapi, jika kekayaan justru membuat kita jauh dari-Nya, maka Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.
Hanya saja, fakta empiris seringkali mengatakan, seseorang yang rajin dan kontinyu mendirikan shalat Dhuha hidupnya tak pernah dirundung kesempitan yang teramat sangat. Justru hidupnya semakin lapang, bahagia, tentram, dan rezeki pun mengalir bak air laut yang tak pernah surut.
Di antara Anda atau orang terdekat Anda tentu pernah mengalami pengalaman nyata terkait dengan shalat Dhuha. Masing-masing tentu memiliki catatan pengalaman yang berbeda satu dengan lainnya. ada di antara Anda yang mungkin menumpahkan pengalaman itu dalam buku harian, namun tidak sedikit pula yang hanya menyimpankannya dalam memori pribadi untuk perenungan diri.
Ketika menjelajahi dunia nyata, saya pun menemukan banyak sekali kisah saudara-saudara kita yang merasakan lezatnya shalat Dhuha. Di antara sekian banyak pengalaman nyata tersebut, saya benar-benar terharu dan “iri” dengan kisah Tukang Pipa Air yang dituturkan seorang kawan blogger, Suwarno, dalam multiply-nya, dan kisah Andri Budi Wibowo Setahun Tanpa Penghasilan yang diposting di www.eramuslim.com. Apa yang membuat saya terharu dan “iri” dengan mereka? Mari kita simak kisah mereka!
27 Sep 2017