Untuk melestarikan dan meningkatkan spiritualitas kerja, kita harus melakukan praktik-praktik spiritual yaitu dengan memahami dan memperbanyak ucapan Laa Ilaha Illallah arti dari Laa Ilaha Illallah tiada yang disembah, di ibadahi, dituju, didamba-dambakan, dan seterusnya selain Allah.
Jika seseorang memahami dan memperbanyak mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah maka ia akan menjadikan Allah sebagai tujuannya. Tujuan lain jika tidak selaras dengan ridho Allah maka ia tinggalkan.
Ahli Laa Ilaha Illallah juga akan memasrahkan segala urusan dan beban kepada Allah, maka akan berdampak kepada peningkatan spiritualitas kerja seperti ketentraman hati yang berujung kepada produktivitas kerja. Hal ini telah dibuktikan melalui riset oleh para peneliti dari Kanada yang dikutip oleh Lusia Kus Anna dan tulisannya dimuat di Health Kompas.com, Sabtu 7 Agustus 2010 dengan judul Mengingat Allah Menentramkan Hati. Tulisan itu menyebutkan bahwa para peneliti Kanada itu menemukan bahwa orang-orang yang mengingat Allah, rasa cemas mereka setelah berbuat kesalahan menjadi berkurang. Ketika otak mereka dipindai, terlihat adanya respon otak yang berbeda ketika mereka memikirkan tentang Allah. Ini baru sekedar mengingat Allah, apalagi jika sampai kepada penghayatan tiada daya, tiada upaya, tiada Ilah lain dan tiada apapun selain Allah, tentu dampaknya lebih hebat lagi.
Dari kalimat Laa Ilaha Illallah juga memunculkan beberapa karakter, yaitu: Pertama, berenergi. Hal ini karena Allah merupakan sumber energi pertama dan yang paling utama. Allah adalah sumber cinta, jika seseorang meyakini tiada yang lebih dicintai daripada Allah, maka energi kecintaan kepada Allah menjadi energi yang sangat besar dalam menghasilkan excellence; Kedua, integritas. Yang dicari hanya ridho Allah, ia akan menjadikan Allah sebagai tujuannya. Tujuan lain jika tidak selaras dengan ridho Allah maka ia tinggalkan. Ahli Laa Ilaha Illallah merasa dekat dengan Allah, merasa diawasi Allah. Maka akan berdampak pada kejujuran; Ketiga, kebijaksanaan. Ahli Laa Ilaha Illallah yakin bahwa penentu hasil adalah Allah, manusia hanya berusaha dan Allah lah yang menentukan; Keempat, keberanian. Ahli Laa Ilaha Illallah meyakini tiada yang dituju kecuali Allah, ia rela memperoleh apapun asal tetap bersama ridho Allah. Ia tidak takut segala sesuatu selama memperoleh ridho Allah; Kelima, Inspirasi. Ahli Laa Ilaha Illallah akan merasa dekat dengan Allah, karena dekat ia akan selalu melibatkan Allah dalam aktifitasnya. Pada akhirnya ia akan kebanjiran hidayah dan bimbingan Allah. Karena inspirasi, ide adalah hidayah.
Memperbanyak ucapan Laa Ilaha Illallah adalah melakukan dzikir. Lalu, apa dan bagaimana dzikir itu?
Pengertian Dzikir
Dzikir berasal dari kata , yang memiliki dua arti yaitu: Pertama, mengingat,mengenang,merasakan dan menghayati. Alat untuk mengingat adalah Qalbu. Dzikir dalam arti mengingat disebut juga dengan dzikir Khafi (samar) atau bisa disebut juga dengan dzikir Sirr (rahasia); kedua, menyebut. Cara menyebutkan tentu saja dilakukan dengan lisan. Dzikir jenis ini disebut juga dengan Dzikir Jahar (nyata).
Pembagian diatas seperti firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan rahasiakanlah (sirri) perkataanmu atau nyatakan lah (jahri); sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang bergejolak di dalam dada.” (Al-Mulk:13).
Dalil Dzikir
Di dalam Q.S Ali Imran ayat 191 Allah SWT berfirman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata:”Ya Allah kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau! Maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Dari dalil diatas maka jelas bahwa dzikir berbeda dengan pikir. Dzikir itu kepada Allah dengan menggunakan rasa dan kesadaran, bersifat transcendental metafisik dan impulsive ritmik. Sedangkan pikir itu untuk fenomena alam dengan menggunakan indera dan logika, rasional empiric, dan bersifat algoritmik sistematik.
Macam-macam Dzikir
Dzikir ada dua macam, yaitu dzikir jahar dan dzikir khafi. Dzikir jahar adalah dzikir yang disuarakan, sedangkan dzikir khafi adalah dzikir yang tidak disuarakan (dzikir didalam qalbu).
Urgensi Dzikir
Bagi orang yang beriman, berdzikir adalah amalan yang tidak boleh ditinggalkan, karena hal ini merupakan perintah dari Allah SWT, seperti firmanNya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya di waktu pagi dan petang.” (Q.S Al-Ahzab [33]:41-42). Berdzikir kepada Allah SWT hendaknya dilakukan kapan saja. Bagus sekali bila dilakukan sesuai shalat, baik shalat fardhu maupun sunnah. Berdzikir juga dapat dilakukan pada waktu pagi dan petang, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut diatas, atau silakan dilakukan pada waktu siang atau malam. Bahkan, dalam berdzikir dengan sebanyak-banyaknya ini, marilah kita renungkan firman Allah SWT sebagai berikut: “…dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QA. Al Anfaal [8]:45). Berdasarkan dalil tersebut, jelas sudah bagi kita bahwa penting berdzikir kepada Allah SWT bahkan berdzikir ini erat kaitannya dengan iman. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa tidak banyak menyebut Allah (berdzikir), maka dia sungguh terlepas dari iman.” (HR. Thabrani). Orang yang tidak banyak menyebut Allah, dalam hadits tersebut dikatakan telah terlepas dari iman. Menurut beberapa ulama, orang yang tidak banyak berdzikir dikatakan sebagai orang yang lemah imannya. Sedangkan dzikir yang paling utama adalah menyebut kalimat Laa Ilaha Illallah. Nabi SAW bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaha Illallah.” (HR Al-Hakim).
Bolehnya dzikir dengan suara lantang. Dalilnya hadits pertama yang terdapat didalam Kitab Bukhari jilid 1: Dalam hadist shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra,berkata: “Sesungguhnya meninggikan suara dalam berdzikir setelah manusia-manusia selesai dari sholat fardhu yang lima waktu benar-benar terjadi pada zaman Nabi SAW. Saya (Ibnu Abbas) mengetahui para sahabat selesai shalat jika saya mendengarnya (suara dzikir).” Selanjutnya dalam hadist: “Suara yang keras dalam berdzikir bersama-sama pada waktu tertentu atau ba’da waktu sholat fardhu, akan berbekas dalam menyinngkap hijab, menghasilkan nur dzikir” (HR Bukhari).
Hadist kedua, dari Abu Hurairah ra ia berkata Rasulullah bersabda: “Allah berfirman: Aku berada didalam sangkaan hambaKu tentang diriKu , Aku menyertainya ketika dia menyebutKu, jika dia menyebutKu kepada diriNya, maka Aku menyebutnya kepada diriKu. Maka jika dia menyebutKu didepan orang banyak, maka Aku akan menyebutya ditempat yang lebih baik daripada mereka.” (HR Bukhari). Penjelasan hadist ini, jika dikatakan menyebut ‘didepan orang banyak’, berarti dzikir tersebut dilakukan secara jahar.
Dzikir Berjama’ah
Salah satunya hadist yang diriwayatkan didalam Al Mustadrak dan dianggap shahih dari Jabir ra berkata: “Rasulullah keluar menjumpai kami dan bersabda: ‘Wahai saudara-saudara, Allah memiliki malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majelis-majelis dzikir di dunia. Maka penuhilah taman-taman surga’. Mereka bertanya: ‘dimanakah taman-taman syurga itu?’. Rasulullah menjawab: ‘majelis-majelis dzikir.’ Kunjungilah dan hiburlah diri dengan dzikir kepada Allah.” (HR. Al Badzar dan Al Hakim). Penjelasan hadist ini, bahwa dalam kalimat ‘malaikat yangpergi berkeliling dan berhenti di majelis dzikir di dunia.’ Maksudnya berarti dzikir dalam hal ini adalah dzikir jahar yang dilakukan manusia secara berjama’ah dalam satu tempat (majelis). Malaikat pun hanya mengetahui dzikir jahar dan tidak mampu mengetahui dzikir khafi. Rasulullah SAW bersabda, “Adapun dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat yakni dzikir khafi atau dzikir dalam hati, yakni dzikir yang memiliki keutamaan 70x lipat dari dzikir yang diucapkan.” (HR Imam Baihaqi dalam Kitab Tanwirul Qulub hal.509).
09 Mei 2017