Melakukan tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit (preventive) lebih bijaksana daripada mengobatinya (curative). Sarafino (1994) mengemukakan tiga jenis pencegahan terhadap suatu penyakit, yaitu (a) pencegahan primer; (b) pencegahan sekunder; (c) pencegahan tersier.
Upaya pencegahn primer ialah upaya yang dilakukan individu guna mempertahankan kesehatan agar terhindar dari gangguan penyakit yang akan menyerang dirinya. Aktivitas-aktivitas ini memang sengaja dilakukan sebelum datangnya penyakit dalam dirinya. Misalnya, seseorang yang akan menikah dengan calon pasangannya perlu melakukan konseling genetika dan atau memeriksa kondisi kesehatan masing-masing kepada dokter sehingga bila ada gejala-gejala gangguan segera ditanggulangi dengan baik.
Pencegahan sekunder ialah upaya-upaya yang dilakukan individu agar dirinya sembuh dari sakit-penyakit yang dideritanya. Penceghan ini dilakukan pada saat dirinya sedang sakit. Ia perlu bnatuan perawatan dokter, atau perawat agar dapat mempercepat kesembuhannya. Caranya dengan menaati nasihat dokter, perawat, misalnya makan-minum obat teratur, perlu istirahat dan libur dari aktivitas kerja/kuliah. Pencegahan itu selain untuk kesembuhan, juga dipergunakan agar tidak menimbulkan gangguan/penyakit lain. Misalnya, seorang yang terkena gangguan maag, segera diobati agar tidak kambuh dan makin parah menjadi sakit tipes.
Upaya yang dilakukan individu untuk merehabilitasi atau mengobati pasien yang telah terangsang suatu penyakit agar tidak menimbulkan efek samping lainnya yang lebih berat. Misalnya seorang individu yang terkena hipertensi jangan diberi makanan yang mengandung kolesterol (misalnya daging) supaya tidak menimbulkan gangguan stroke dan penyakit jantung.
Gambar 1.6 jenis-jenis pencegahan penyakit
Kehidupan dewasa muda ditandai dengan kemampuan fisik yang prima. Kondisi kesehatan yang baik akan memacu individu untuk mengaktualisasikan dirinya agar mencapai puncak prestasi. Untuk itu, penampilan fisik sangat diperhatikan agar terjaga dengan baik. Mereka berusaha menjaga aktivitas dengan melakukan diet, berolahraga, dan berusaha menjauhi makanan yang tak sehat. Lebih dari itu, perlu upaya pencegahan agar tidak terserang gangguan penyakit.
Daftar Pustaka
Liwijaya-Kuntaraf, K., Kuntaraf, J., dan Budiati, W. 1995. Maknan Sehat. Bandung: Indonesia Publishing House.
McKim, W.A. 1999. Drugs and Behavior: An introduction to Behavioral Pharmachology. (2nd Ed). Englewood Cliffs, Nj: Prentice Hall.
Papalia, W.E.; Olds, S.W., dan Feldman, R.D. 1998. Human Development. (7th Ed). Boston: McGraw-Hill, Inc.
Ray, O., dan Ksir C. 1999. Drugs, Society and Human Behavior. (8th Ed). Boston: Mc Graw-Hill.
Santrock, J.W. 1999. Life-span Development. (10th Ed). Singapura: John Wiley and Sons.
Siregar, I.M.P 2000. “Beberapa Aspek Penggunaan Zat Psikoaktif” dalam Jurnal Psikologi, Vol.5. No.1. Hlm. 18-32.
Taylor, S. E. 1999. Health Psychology. (7th Ed). New York: McGraw-Hill.
Turner J.S., dan Helms, D.B. 1995. Life-span development (5th Ed). New York: Holt, Rinehart, and Wisnston.
29 Sep 2017