PEMBUKA

bab pertama

PEMBUKA

Setiap pagi, semua orang di dunia ini disubukkan dengan beragam usaha, aktivitas, dan urusannya masing-masing. Begi pegawai, bekerja di kantor adlah rutinitas mereka setiap hari. Bagi yang berprofesi sebagai guru, mereka harus mengajar para siswa di sekolah. Bagi yang jadi sopir atau tukang becak, mencari penumpang adalah pekerjaan yang harus dilakoni. Bagi yang jadi wartawan, mencari berita merupakan kewajiban. Bagi nelayan, melaut adalah seni hidupnya. Bagi petani, pergi ke sawah sambil membawa cangkul adalah usahanya mengais rezeki. Dan, masih banyak lagi kesibukan manusia setiap hari. Semua itu adalah pekerjaan yang halal dan baik (tahyyib), karena mereka bekerja dan berkarya untuk menjemput rezeki yang telah disediakan oleh Sang Yang Mahakaya.

Islam memang sangat menghargai harta dan kekayaan. Banyak sekali ayat atau dalil yang memerintahkan manusia agar menjemput rezeki, bahkan hingga ke perut bumi. Misalnya, fiman Allah swt., “Apabila telah ditunaikan shalat, maka betebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya akmau beruntung.” (Q.s. Al-Jumu’ah [62]: 10)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Carilah rezeki di perut bumi.” (H.r. Abu Ya’la)

Dalam hadist yang lain disebutkan, “Seusai shalat fajar (Shubuh), janglah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (H.r. Ath-Tabrani)

Kalau kit abaca sejarah para nabi termasuk Nabi Muhammad saw., mereka semua bekerja. Tidak ada satu nabi pun yang kerjanya hanya menunggu keajaiban rezeki yang datang dari langit. Meski mengemban amanat berdakwah mengajak menusia ke jalan Allah, Kesibukan itu tidak melalaikan mereka untuk tetap bekerja menjemput rezeki Allah. Nabi Muhammad saw. pernah menjadi penggembala dan juga pedagang. Beliau juga menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk mencari rezeki yang halal melalui kerja.

Nabi-nabi yang lain  juga demikian. Mereka bekerja untuk keperluan hidupnya. Nabi Adam, misalnya, ia bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya. Nabi Idris menjadi tukang jahit. Nabi Nuh menjadi tukang kayu. Nabi Musa menjadi penggembala. Begitu juga Salafuna ash-shalih yang ibadahnya jauh lebih baik dari kita, mereka juga menjemput rezeki dengan bekerja. Tetapi, Sebelum memulai usahanya, para utusan Allah untuk dilancarkan usahanya, baik melalui doa maupun shalat. Dan, shalat yang diajarkan oleh Nabi saw. sebagai pembuka pintu rezeki adalah shalat Dhuha. Shalat ini dilakukan pada waktu yang penuh berkah, yaitu waktu dhuha.

Waktu dhuha adalah waktu yang penuh dengan fadhilah, terutama untuk mengawali aktivitas, baik yang bersifat duniawi (bisnis) maupun ukhrawi. Kenapa disebut waktu yang penuh fadhilah? Karena, saat itu manusia sibuk dengan usahanya masing-masing dan terkadang lupa akan Tuhannya. Seolah yang mereka lakukan adlah hasil jerih usahanya sendiri. Mereka seringkali lupa bahwa rezeki yang is dapatkan adalah datang dan merupakan anugera (pemberian) dari Allah swt.

Rasulullah saw. menganjurkan bagi pengikutnya, sebelum melakukan aktivitas hendaknya shalat Dhuha terlebih dahulu. Shalat dhuha menjadi pintu awal menuju kesuksesan seseorang dalam aktivitasnya. Karena, Dhuha merupakan media meminta kelancaran rezeki kepada Sang Pemilik rezeki.

Namun, tidak serta merta setelah melaksanakan shalat Dhuha rezeki akan turun sendiri dari langit. Setidaknya ada empat hal utama yang harus dilakukan agar rezeki lancer, yaitu ditopang dengan DUIT (Doa, Usaha, Iman, dan Tawakal).

Percayalah dan yakinlah dengan ketulusan dan kekhusyukan dalam menunaikan shalat Dhuha yang ditopang dengan empat hal di atas, Insya Allah rezeki kita akann mengalir deras bahkan tak berkesudahan. Amin

***

Administrator

  18 Sep 2017

Kontak Kami