Pengertian Paradigma
Langkah awal seseorang untuk menjadi manusia dan pekerja yang spiritualistik adalah dengan mengubah paradigma kehidupannya. Tanpa mengubah paradigma, mustahil seseorang dapat menjadi sosok yang spiritualistik karena ibarat gelas yang sudah berisi maka ketika diisi dengan yang lain, isinya yang baru itu akan tumpah. Jadi, buanglah isi gelas Anda, kosongkan gelas Anda, dan bersedialah untuk diisi dengan yang baru; buanglah paradigma yang buruk, bukan terus menerus menyalahkan diri sendiri apalagi menyalahkan orang lain!
Lalu apa itu paradigma? Ia adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertindak (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya dalam disiplin intelektual. Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin di tahun 1483, yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani paradeigma (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik).
Begitu pentingnya paradigma karena paradigma seseorang menghasilkan kebiasaan (tindakan berulang). Kebiasaan itu kemudian membentuk karakter orang tersebut dan karakter sangat berhubungan dengan nasib (detiny) yang menimpa dirinya.
Macam-macam Paradigma
Adapun paradigma yang digunakan seseorang untuk memahami kehidupan paling tidak ada dua macam, yaitu: Paradigma Materialistik dan Paradigma Spiritualistik.
Paradigma Materialistik, yaitu menganggap bahwa segala sesuatu baru ada kalau berwujud secara materi sehingga manusia pun dianggap hanya sebatas tubuh. Dari Paradigma Materialistik ini kemudian memunculkan paradigma atau sekularistik, yaitu suatu pandangan hidup yang memahami bahwa kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh dibumi ini saja. Paradigma sekularistik kemudian melahirkan paradigma atau sifat hedonistik.
Adapun paradigma spiritualistik adalah memahami sesuatu tudak hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi, namun manusia adalah mahluk spiritual atau manusia ruhaniah. Akan ada kehidupan selain dibumi sekarang ini.
Paradigma Materialistik yang melahirkan paradigma sekularistik dan paradigma hedonistik harus ditinggalkan karena ukuran kebahagiaan bagi pemilik paradigma materialistik dan paradigma turunannya adalah kenikmatan tubuh atau jasmani, yang dapat dirasakan sekarang dibumi ini. Sebagian besar mereka mengetahui adanya akhirat, tetapi tidak menjadi kesadaran yang melekat dalam diri mereka. Mereka terpesona dengan kehidupan di dunia seakan-akan kehidupan hanya kini, disini, dibumi. Mereka menjadi orang-orang yang lalai (ghaflah) akan akhirat. Konsekuensinya, kejarlah semua yang diinginkan sekarang juga, disini juga mumpung masih dibumi. Tak pelak, orang pun berlomba-lomba mencari kenikmatan jasmaniah dan akhirnya menjadi rakus!
Selain orang-orang tersebut menjadi rakus, mereka juga menjadi stress dilanda kecemasan dan kegalauan (anxiety). Mereka merasa kesepian apalagi dikala tubuh semakin hari semakin tua banyak penyakit yang menghampirinya seperti kolesterol tinggi, asam urat, tekanan darah tinggi, diabetes dsb.
Melihat keadaan ini, mungkinkah orang akan mencapai kebahagiaan? Yang terjadi justru sebaliknya, stress meningkat. Itu sebabnya, kebahagiaan tidak dapat kita raih jika diukur hanya sebatas tubuh jasmani saja. Apabila orang sudah terjebak pada pola hidup hedonisme, yang menghalalkan segala macam cara, maka prinsip hidup yang dianutnya adalah tiga H yaitu: Halal, Haram, Hantam.
Sekali lagi, kalau sudah materialistik otomatis sekularistik. Maksudnya, segala-galanya harus bisa diperoleh sekarang juga, mumpung di bumi sehingga yang disebut kenikmatan adalah kenikmatan jasmani. Baginya tidak ada kehidupan ruhaniah nanti disana, sikap yang sekularistik kemudian melahirkan sifat hedonistik, yaitu sifat yang mementingkan kesenangan dan kepuasan duniawi tanpa mempertimbangkan aspek moralitas, sosial, adat istiadat, maupun agama. Yang penting bisa mendapat kesenangan dan kepuasan. Kata-kata baik atau buruk, benar atau salah, tidak lagi menjadi pedoman.
Skema 1
Paradigma materialistik (orang menjadi rakus) memunculkan paradigma atau sikap sekularistik (orang menjadi stress dan galau) yang kemudian, sikap sekularistik memunculkan sifat hedonistik (korup dan amoral)
Misalnya, ketika ada jabatan kosong yang lebih tinggi di kantor dia ingin sekali mendapatkannya. Akibatnya, bila jabatan tersebut dimiliki orang lain itu akan membuatnya stress. Bagaimana dia menghalau stressnya? Dia pun melakukan terobosan-terobosan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan jabatan tersebut. Sikap hidup yang hedonis membuat orang tidak bahagia. Mengapa? Karena pola pikirnya adalah mengejar kenikmatan tubuh sesaat, padahal tubuh akan semakin menua dan melemah. Apabila tubuh yang semakin menua dan melemah itu dipaksa harus menikmati segala sesuatu secara jasmaniah, sekarang dan disini, bukankah hal ini hanya akan menjadikan orang bertambah stress?
Maka, jika hidup ingin mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan terhindar stress, orang harus meninggalkan ketiganya. Bergeserlah secepat mungkin ke paradigma spiritualistik!
Pentingnya Memiliki Paradigma Spiritualistik
Paradigma spiritualistik memahami kehidupan manusia tidak hanya sebatas kehadiran tubuh dibumi, namun manusia adalah mahluk spiritual atau manusia ruhaniah. Akan ada kehidupan selain dibumi sekarang ini. Allah mengingatkan bahwa manusia bukan hanya tubuh, tetapi juga ruh.
Sebagaimana Allah SWT ingatkan dalam ayatNya berikut ini:
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS Al Insaan, 76:1)
Paradigma spiritualistik membuat penganutnya memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan ketetapan dari Allah SWT karenanya kehidupan ini harus disyukuri. Cobaan, kekurangan dan penderitaan disikapi dengan sabar dan dengan ketabahan serta memulangkan segalanya kepada Allah SWT. Karena segala sesuatu memang milikNya, termasuk dirinya sendiri. Penganut paradigma ini memandang kehidupannya di dunia mempengaruhi kehidupannya di akhirat (holistik). Segala sesuatu yang dilakukan di dunia dilihat, diketahui dan dinilai oleh Allah SWT yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Maka, dengan paradigma ini manusia tidak akan terkena stress, hidup menjadi tentram yang tentu sangat berpengaruh kepada kualitas dirinya dan ia selalu mendatangakan kebijakan yang bersumber dari kesucian (virtus ex sanctus).
Skema 2
Dengan paradigma spiritualistik, seseorang memiliki ketersambungan (connectedness) dengan Allah SWT yang mendatangkan pandangan hidup holistic sehingga ia menjadi tenang dan selalu mendatangkan kebijakan yang bersumber dari kesucian (virtus ex sanctus)
Pengertian Spiritualitas dan Spiritualitas Kerja
Spiritualitas berasal dari bahasa Inggris yaitu Spirituality. Akar kata dari spirituality adalah spirit. Spirit bisa berarti jiwa, bisa juga berarti immaterial (sesuatu yang non materi). Adapun spiritualitas, ia berarti berhubungan dengan Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Spirit juga bisa berarti murni, Murni dalam bahasa Arab adalah Ikhlas.
Maka, spiritualitas kerja adalah jiwa, makna, motif dalam suatu pekerjaan. Spirit juga bisa berarti murni, Murni dalam bahasa Arab adalah Ikhlas. Maka, orang yang bekerja spiritual adalah orang yang ikhlas dalam bekerja. Kemurnian seseorang ada pada fitrahnya, dan fitrah manusia adalah memiliki kerinduan kepada Allah, ingin dekat dengan Allah.
Relijiusitas dan Spiritualitas
Relijiusitas dan spiritualitas adalah dua hal yang berbeda, Relijiusitas terpaku pada simbol-simbol keagamaan dan praktik-praktik rtual keagamaan, sedangkan spiritualitas merupakan inti dari keagamaan itu sendiri yaitu keterhubungan seseorang dengan Allah SWT yang berdampak pada akhlak. Idealnya, seorang yang relijius adalah seorang yang spiritualistik. Namun pada kenyataannya sering kita saksikan relijiusitas seseorang tidak sama dengan spiritualitasnya.
Contoh perbedaan antara relijiusitas dan spiritualitas adalah fenomena umrah dan haji di Indonesia. Setiap tahun, ratusan ribu orang melaksanakan umrah dan haji, bahkan untuk haji kuotanya setiap tahun tidak mencukupi sehingga sebagian orang harus menunggu untuk berangkat haji sampai bertahun-tahun. Namun, sampai akhir tahun 2012 Indonesia masih menempati urutan pertama sebagai negara paling korup di Asia Tenggara, padahal jamaah umrah dan haji Indonesia merupakan terbesar dari negara-negara di Asia Tenggara juga di dunia. Bahkan pada beberapa kasus para pejabat yang baru saja pulang melaksanakan umrah atau haji ditangkap dan dipenjarakan karena kasus korupsi. Jadi, umrah dan haji di Indonesia yang merupakan bentuk relijiusitas belum berdampak kepada spiritualitas bangsa ini yang nota bene mayoritas beragama Islam.
16 Mei 2017