Pak Boim Naik Haji

Boim Lebon

Alahamdulillah, dua kali pergi haji, Bukannya mau mennyaingi Haji Muhiding dalam film Tukang Bubur Naik Haji ya, tapi Alhamdulillah di tahun 2003 (nggak terasa suda belasan tahun yang lalu) saya punya duit untuk daftar bagi dua orang. Ya, dari hasil tabungan saya berniat mengajak  istri dan ibu kandung saya naik haji. Namun ternyata duit tabungannya hanya cukup untuk dua orang. Hasil musyawarah saya dengan istri akhirnya memutuskan saya berangkat haji duluan bareng ibu kandung.

      Terus  terang saat itu uangnya pas-pasan banget. Maksudnya pas buat biaya pendaftaraan dan sedikit pegangan di Tanah Suci. Saya nggak punya bujet lebih untuk oleh-oleh. Ibu kandung saya juga gitu. Yang penting buat pelunasaan ONH ada, buat yang ditinggalin juga ada. Istri hanya saya tinggalin sebatas uang belanja satu bulan,  nggak lebih. Tapi Alhamdulillah, pas pulang haji sepertinya kondisi kantor malah membaik, saya dapat bonus tiga atau empat kali gaji yang sebagian bisasaya tabungkan lagi. Benar-benar bersyukur, saya bisa nabung untuk mendaftar haji berikutnya, yaitu untuk pergi haji bersama istri pada tahun 2009, artinya enam tahun kemudian saya berangkat haji lagi!

       Jadinya dua kali naik haji ini bukan karena kemauan saya, tapi karena keadaan yang memungkinkan. Pertama untuk menemani ibu kandung yang kedua menemani istri. Pada saat menemani istri pergi haji, saya membadali (menghajikan) almarhum bapak saya yang belum sempat pergi haji. Masya Allah, artinya sekarang bapak dan ibu saya sudah  kebagian pahala berhaji, saya dan istri juga sudah. Inilah yang merasakan saya ini sebetulnya “orang kaya” Bukan kaya harta, tapi kaya akan rasa syukur!

Yang lebih rumah lagi. Belinya tunai loh, nggak pake ngutang! Oh, ya, kebiasaan menabung untuk membeli barang secara tunai ini memang muncul setelah saya sebisa mungkin menghindari berutang, apalagi melibatkan bank! Mulai beli rumah pada tahun 1995, lalu beli  motor, mobill dan beli rumah lagi semuanya melalui uang tabungan, Bahkan pernah istri saya minta magic jar pada saat saya nggak punya uang. Maka saya bilang rasanya tiga bulan lagi baru bisa membelikan , karena saya memprediksi uang tabungan saya. Istri saya saat itu minta beli kredit, karena perlu banget buat masak nasi. Saya bilang, jangan hilangkan kebiasaan menabung untuk bisa membeli barang secara tunai. Alhamdulillah, istri saya mengerti. Hikmahnya istri saya bisa menakar beberapa banyak beras yang harus dimasak kalau nggak pake magic jar. Hehehe… Masya Allah, sepulang dari naik haji yang pertama di 2003 itu, kondisi keuangan saya berangsur-angsur meningkat dan membaik. Sedangkan pulang haji tahun 2009 saya yang betul-betul nggak punya duit lebih, eh, pas pulang ke rumah saya bisa menukar Kijang tahun 2000 yang kondisinya sudah menurun dengan mobil baru yang tentu lebih nyaman. Kalau kita ingat Allah Swt… Allah Swt. Akan ingat kita dan kalau kita selalu memprioritaskan perintah-Nya, insya Allah segala hajatdan kebutuhan kita akan dimudahkan oleh nya

         Jadi, kalau emang sudah ada duit bayar ONH nya dan ada waktunya, jangan tunda-tunda lagi. Mumpung masih, berangkat ke tanah suci untuk pergi haji!

Setelah pulang haji kemudian dipanggil Pak haji? Hehe, itu memang sudah bawaannya kali, ya? Meskipun tujuan pulang haji bukan ingin dipanggil Pak Haji. Jujur saja. Saya kalau dipanggil pak haji enggak nengok, soalnya namannya saya kan “Boim”, kalau dipanggil Pak Boim baru deh nengok. Hehe.

       Yang paling penting adalah perbuatan apa yang harus kita lakukan setelah pulang haji, kan? Kalau pikir-pikir rentetan ibadah haji itu semuanya untuk meningkatan kesadaraan kita, bahwa kita ini hanya sebutir debu di dataran padang pasir yang luas. Ceile! Yah, ibaratnya gitu. Artinya kita ini bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa dan nggak punya apa-apa. Dengan selembar ihram inilah kita menuju Padang Arafah untuk Wukuf, untuk menyadari kalau kita nantinya akan mengalami berada di tempat yang mirip pada saat wukuf yaitu di padang mahsyar.

       Proses penyadaraan ini memang perlu dupratikan ketika kita hidup di dunia, karena kalau enggak kita bakalan lupa kalau kita di dunia hanya sementara. Setelah itu kita akan menuju satu tempat yang masih butuh waktu panjang perjalanannya!

Labaik Allahuma Labbaik, labbaik la syarika laka labbaik,

Innal al-hamda, wa ni’mata laka wa al-mulk, la syarika laka.

Yang artinya, aku datang ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-

Mu; Aku datang, tiada sekutu bagi Mu, aku datang sesungguhnya segala pujian, segala kenikmatan, dan seluruh kerajaan adalah milik Engkau. Tiada sekutu bagi Mu.

Administrator

  23 Feb 2020

Kontak Kami