Niat memiliki peran yang sangat penting dalam bekerja, antara lain: Pertama, sebagai penentu baik atau buruknya sebuah perbuatan. Rasulullah SAW bersabda: ”innamal a’malu bin niyat” artinya Segala perbuatan itu tergantung niatnya. Redaksi hadist tersebut aslinya panjang yang isinya menjelaskan bahwa ada beberapa orang yang memiliki motif yang berbeda dalam berhijrah. Ada yang motifnya karena Allah dan rasulNya, ada yang karena dunia, ada juga karena wanita. Semua orang yang berhijrah menempuh jarak yang sama, mengalami kesulitan yang sama dan menghadapai tantangan yang sama. Namun di mata Allah apakah nilai mereka sama? Tidak sama. Apa yang membedakan nilai mereka dimata Allah? NIAT. Maka alangkah pentingnya menetapkan niat sebelum bekerja. Kedua, sebagai penentu bobot sebuah perbuatan. Ibnu Qudamah berkata, “Tidak ada satu perkara yang mubah kecuali mengandung satu atau beberapa niat yang dengan niat-niat tersebut berubahlah perkara mubah menjadi qurbah (berpahala), sehingga dengannya diraihlah derajat-derajat yang tinggi. Maka sungguh besar kerugian orang yang lalai akan hal ini, yang ia menyikapi perkara-perkara yang mubah (seperti makan, minum, dan tidur) sebagaimana sikap hewan-hewan ternak. Dan tidak selayaknya seorang hamba menyepelekan setiap waktu dan betikan-betikan niat, karena semuanya akan dipertanyakan pada hari kiamat, ‘Kenapa ia melakukannya?’, ‘Apakah yang ia niatkan?’ Contoh perkara mubah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah parfum (minyak wangi), ia memakai minyak wangi dengan niat untuk mengikuti sunnah Nabi, untuk memuliakan masjid, untuk menghilangkan bau tidak enak yang menganggu orang yang bergaul dengannya.” Perkataan Ibnu Qudamah ini sebagai contoh menggandakan niat dalam perkara-perkara mubah. Maka, alangkah ruginya jika bekerja yang menghabiskan porsi terbesar dalam hidup kita, tidak kita beri bobot dengan niat baik yang berlapis. Mari kita simak kisah dibawah ini.
Kisah Dua Petugas Penjaga Pintu Kereta Api
Ada dua orang petugas penjaga pintu kereta api, petugas pertama dan petugs kedua niatnya berbeda. Petugas pertama berkata, “Saya menjaga pintu kereta api karena tidak ada pekerjaan lain. Sebab saya tidak punya skill yang lain, yang penting setelah selesai tugas setiap bulan saya memperoleh gaji.” Orang kedua niatnya berbeda, ia berkata, “Ya Allah, aku menjaga pintu kereta api ini aku ingin menolong orang-orang Ya Allah, karena kalau pintu api ini tidak tertutup akan banyak korban kecelakaan tertabrak oleh kereta api, kalau yang tertabrak adalah seorang bapak-bapak maka anak-anaknya akan menjadi anak yatim, kalau yang tertabrak kereta adalah pimpinan perusahaan maka karyawan-karyawan nasibnya bisa terbengkalai, sedangkan karyawan itu punya keluarga, kalau yang tertabrak seorang menteri atau presiden Negara ini bisa jadi kekacauan, Ya Allah aku bekerja ini dalam rangka niat menolong jutaan umat manusia.”
Kedua petugas tersebut memiliki pekerjaan yang sama, hak dan kewajiban yang sama, namun di mata Allah berbeda nilainya. Yang membedakan keduanya adalah niat. Petugas pertama hanya memperoleh pahala mencari harta yang halal. Sedangkan petugas kedua, selain memperoleh nilai mencari harta halal, ia juga memperoleh pahala menolong orang banyak.
Dari kisah dua petugas penjaga lintasan kereta api diatas, kita bisa tebak mana diantara kedua petugas tersebut yang lebih termotivasi, tentu yang kedua. Maka kita bisa menebak yang mana dari kedua karyawan tersebut yang lebih termotivasi, mengapa? Karena petugas kedua dapat mengetahui dan menggali makna dibalik pekerjaannya. Selain itu, orang yang memiliki niat yang mulia tidak mudah bosan, kita tahu bahwa betapa banyak orang yang mudah bosan dengan pekerjaannya.
Mari kita hitung kegiatan kita dengan waktu yang dibutuhkan pada hari-hari kerja, durasi 24 jam dengan beberapa asumsi: Tidur 6 jam, makan 2 jam, kerja dan perjalanan 12 jam, kegiatan yang lain-lain (misalnya nonton tv, kumpul dengan keluarga, menyalurkan hobi) 4 jam.
Mari kita lihat dari penjelasan diatas, ternyata porsi terbesar hidup kita adalah untuk bekerja. Alangkah ruginya jika porsi terbesar dalam hidup kita ternyata tidak berdampak bagi pembangunan akhirat kita. Meskipun incomenya triliunan, namun kalau tidak membangun akhirat sama dengan GAGAL TOTAL!
09 Apr 2017