MENJADI KAYA DENGAN SHALAT DHUHA

“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.”

(H.r. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)

 

  1. Yang Penting: DUIT!

Manusia adalah makhluk yang lemah. Karenanya, ia membutuhkan campur tangan dari luar dirinya untuk memenuhi segala kebutuhannya. Ada kebutuhan yang bersifat fisik, seperti makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan seksual. Ada pula yang bersifat praktis, seperti rasa aman, kasih saying, rasa sukses, diakui dan sebagainya. Serta ada pula kebutuhan yang bersifat sosial dan relijius. Apabila beberapa kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka akan menimbulkan penyakit, apakah itu penyakit fisik, psikis, sosial maupun relijius. Dalam kondisi demikian, manusia membutuhkan sarana untuk mengatasi semua permasalahannya. Dan salah satu sarana yang diberikan oleh Allah swt. untuk kaum beriman adalah shalat, sebagaimana firman-Nya, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (Q.s. Al-Baqarah [2]: 45)

Di antara sekian banyak macam shalat yang diajarkan oleh Rasulullah saw., shalat Dhuha adalah salah satu yang sangat masyhur dan dijalankan oleh umat Islam. Shalat sunnah ini kesohor sebagai ‘shalat kekayaan’ atau ‘shalat pembuka pintu rezeki’. Benarkah demikian? Benar sekali! Namun, untuk mendatangkan kekayaan dan membuka pintu rezeki, harus diperhatikan empat dimensi utama shalat Dhuha, yaitu Doa, Usaha, Iman, dan Tawakal (DUIT).

Pertama, Doa.

Shalat, termasuk pula shalat Dhuha adalah ekspresi doa seorang hamba kepada Sang Khaliq. Di dalam berdiri, rukuk, sujud, duduk tasyahud, dan seterusnya terkadang esensi doa dan bentuk kepasrahan seorang hamba yang lemah dan berlumur dosa. Begitu pula ketika kita mendirikan shalat Dhuha, pada hakikatnya kita sedang berdoa kepada Allah swt., memohon apa pun yang kita inginkan kepada-Nya. Tak cukup itu, seusai menjalankan shalat Dhuha, kita lanjutkan dengan merapalkan doa-doa khusus pembuka pintu rezeki.

Apakah Allah akan mengabulkan semua doa dan permintaan kita? Jangan pernah setitik pun kita menyimpan perasaan pesimis pada kekuatan doa, karena sesungguhnya Allah swt. akan selalu mengabulkan permintaan hamba-Nya selama ia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh. Bukankah Dia telah berjanji: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu.” (Q.s. Al-Mu’min [40]: 60)

Percayalah bahwa semua doa kita akan dikabulkan oleh-Nya. Namun, perlu kita ketahui bahwa cara Allah mengabulkan doa ada yang langsung dan ada pula yang ditangguhkan. Pengabulan doa yang langsung (cash/kontan) misalnya, saat shalat Dhuha kita meminta rezeki berkecukupan. Ternyata, sore harinya ada yang member kita pekerjaan. Inilah doa yang cash atau kontan.

Adapun doa yang ditangguhkan (delayed / tertunda) misalnya, hari ini kita berdoa tetapi dikabulkannya baru lima tahun kemudian. Inilah doa yang ditangguhkan. Bahkan, ada juga doa yang pengabulannya tidak di dunia, tetapi menjadi deposito amal shalih kita di akhirat. Ini juga merupakan bentuk pengabulan doa yang delayed atau ditangguhkan.

Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorang Muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdoa, kecuali Allah akan mengabulkan (memberikannya). Kadang-kadang, pengabulannya dipercepat (cash) dan kadang diperlambat/ ditangguhkan (delayed).” (H.r. Ahmad dan Hakim)

Umumnya, apabila permohonan kita tidak atau belum terkabulkan, kita merasa sumpek dan berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Padahal, kemungkinan besar justru inilah yang terbaik untuk kita. Ingat, bahwa ilmu kita sangatlah terbatas, sementara ilmu Allah Mahaluas. Dialah yang lebih tahu dan Mahatahu tentang apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Allah swt. berfirman:

Bisa saja kamu membenci sesuatu padahal hal itu baik untuk kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagi kamu. Da Allahlah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah [2]: 216)

Bisa saja kamu membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.s. An-Nisa [4]: 19)

Kedua, Usaha.

Rezeki itu laksana bayangan; didekati kadang lari, didiamkan malah datang sendiri. Aneh memang, tetapi itulah kenyataannya. Rezeki setiap makhluk memang telah dijamin dan dijatah oleh Allah, namun demikian Allah memerintahkan kita agar menjemputnya melalui bekerja. Bahkan Rasulullah pun bekerja. Beliau pernah menjadi penggembala dan juga pedagang. Beliau juga menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk mencari rezeki yang halal melalui kerja.

Nabi-nabi yang lain juga demikian. Mereka bekerja untuk keperluan hidupnya. Nabi Adam misalnya, ia bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya. Nabi Idris menjadi tukang jahit. Nabi Nuh menjadi tukang kayu. Nabi Musa menjadi penggembala. Begitu juga Salafuna ash-Shalih yang ibadahnya jauh lebih baik dari kita, mereka juga menjemput rezeki dengan bekerja.

Rasulullah saw. bersabda, “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (H.r. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)

Sungguh, lebih mulia di hadapan Allah, seorang hamba yang membawa tali dan memikul kapak kemudian melangkah ke hutan untuk mencari kayu, dan kayu itu dijual sehingga menghasilkan uang. Itu lebih baik daripada mereka yang hanya berpangku tangan mengharap turunnya hujan emas dari langit, bahkan lebih baik daripada para peminta-minta.

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (H.r. Muttafaq ‘Alaih)

Usaha (ikhtiar) memiliki kaitan erat dengan doa, keduanya bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya saling melengkapi, dan tidak bisa dipisahkan. Misalnya, kalau kita meminta ilmu, ya harus dibarengi dengan belajar. Kalau kita meminta harta, maka damping dengan usaha. Kalau kita meminta sukses dalam berkarier, maka iringi dengan kerja keras. Kalau kita meminta ksembuhan, maka ikuti dengan pengobatan. Petuah ulama mengatakan: “Doa tanpa usaha adalah sia-sia, dan usaha tanpa dibarengi doa juga tak bermakna (karena tidak membawa keberkahan).”

Salah satu ayat yang menekankan pentingnya sinergi antara doa dan usaha adalah firman Allah swt.: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.s. Ar-Ra’du [13]: 11)

Ayat ini merupakan panduan pokok untuk mencapai kesuksesan dan kekayaan. Dengan bahasa sederhana, kekayaan dan kesuksesan hanya dapat dicapai melalui keseimbangan antara doa dan usaha. Karenanya, shalat Dhuha yang dilakukan secara khusyuk dan bersungguh-sungguh tetapi tidak diikuti dengan etos kerja dan semangat juang yang tinggi, sama halnya dengan tidak menjaga keseimbangan antara doa dan usaha. Jika ini yang terjadi, maka dapat dibilang kita telah gagal dalam ber-Dhuha. Artinya, Shalat Dhuha baru kita lakukan sebatas gerakan fisik dan rapalan doa, tanpa penjiwaan dan pengejawantahan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, untuk menjadi kaya kita harus bekerja, untuk lulus ujian kita harus belajar, untuk berprestasi kita tidak boleh loyo dalam berkreasi, untuk menjadi mulia kita tidak harus memperbanyak amal kebaikan, dan untuk dicintai sesame kita harus mengedepankan kejujuran dan akhlak mulia. Sementara shalat Dhuha dan doa yang menyertainya adalah energy pendorong bagi terwujudnya segala harapan itu.

Ketiga, Iman.

La haula wala quwwata illa billah! Tidak ada kekuatan dan kekuasaan-Nya. Dialah yang menjadikan bumi hidup dan berputar. Dia pula yang member udara kepada manusia untuk  bernafas dan kesehatan untuk berkarya. Begitu pula rezeki yang kita nikmati setiap hari, adalah atas kuasa-Nya. Kita harus sadari itu! Jika kesadaran ini telah tertanam kuat dalam hati, maka kita pun akan mengimani bahwa hanya Dialah yang mampu membuat kita bekerja dan menjadikan kita kaya.

Dalam konteks shalat Dhuha, ketika menunaikannya, kesadaran dan keimanan kita terhadap kemahakuasaan Allah ini haruslah menjadi pondasi utama dalam memohon rezeki kepada-Nya. Sehingga iman kita pun tak tergoyahkan bahkan semakin kuat, bahwa pada hakikatnya yang menjadikan kita kaya dan berharta bukan shalat Dhuha itu sendiri, melainkan Allah swt.. Shalat Dhuha hanyalah perantara atau sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dan, ketika kita telah dekat kepada-Nya, kesuksesan dan kekayaan pun akan diberikan kepada kita sebagai imbalan atas kesungguhan kita mendekat kepada-Nya.

Iman adalah energy utama untuk berma’rifat kepada Allah. Tanpa iman, semua amal akan sia-sia. Orang Nasrani, Yahudi, Hindu, Buddha, dan lain-lain, mereka semua juga mengajarkan sedekah, berdoa, dan puasa. Bahkan orang kafir Jahiliyah pun melaksanakan haji. Artinya, ajaran dan amalan mereka hampir tidak jauh berbeda dengan agama kita. Namun, semua amal kaum kafir itu tidak akan pernah bernilai sama sekali di sisi Allah Ta’ala, karena tidak didasari iman kepada-Nya. Jadi, iman inilah yang menjadi batas pembeda antara kita dengan meraka (non Muslim).

Iman seseorang akan kuat dan teguh apabila disinergikan dengan keikhlasan. Ikhlas semata-mata karena mengharap ridha Allah (libtghi’i mardhatillah). Atau dalam bahasa keseharian kita disebut lillahi ta’ala (semata karena Allah Ta’ala). Tak mengherankan, dalam berbagai niat ibadah –baik berupa wudhu, shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya—selalu dipungkasi dengan kata lillahi ta’ala.

Perhatikan niat shalat Dhuha berikut ini:

Ushalli sunnatadh-dhuha rak’ataini lillahi ta’ala.

“Aku berniat shalat Dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Di dalamnya tertanam kuat semangat lillahi ta’ala (semata karena Allah Ta’ala), dan bukan semangat lil-mal wal-ghina (karena harta dan kekayaan). Begitu pula doa Iftitah yang kit abaca setiap shalat, juga menekankan semangat tersebut. Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil-‘alamin (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, dan matiku adalah karena Allah, Tuhan semesta alam).

Semangat ini hendaklah tidak hanya manis di bibir, namun juga dikukuhkan dalam hati dan diwujudkan dalam perbuatan / aksi nyata. Inilah “keunikan” dan kemahasempurnaan Allah. Dia menjanjikan kekayaan kepada para hamba-Nya yang rajin shalat Dhuha, namun di saat yang sama Dia justru tidak membenarkan kita melaksanakan shalat Dhuha semata-mata karena ingin mendapat kemilau harta. Coba kita renungkan, “Seandainya Allah tidak menjadikan kita kaya dan berharta, apakah lantas kita tidak beribadah kepada-Nya? Tidak mau lagi mendirikan shalat  ketika miskin maupun kaya, ketika sakit maupun sehat, dan seterusnya.

Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.s. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Tepat sekali, bahwa ibadah yang benar bukanlah yang dilakukan atas dasar kemilau harta atau pesona kekayaan dunia. Tetapi, ibadah yang benar –termasuk juga shalat Dhuha—adalah yang dilaksanakan semata-mata karena-Nya. Adapun harta atau kekayaan yang ternyata mengalir deras pascakeaktifan kita ber-Dhuha, itu hanyalah hadiah atau bonus yang diberikan Allah yang dikarenakan keikhlasan kita dalam menyembah-Nya.

Seperti inilah cara bertauhid yang benar! Contoh lainnya adalah katika obat membuat kita sehat, hakikatnya bukan obat itu sendiri yang menjadikan kita sehat, tetapi Allah-lah yang menjadikannya dengan perantaraan obat tersebut. Ketika balajar membuat pintar, hakikatnya bukan belajar itu sendiri yang membuat kita pintar, tetapi Allahlah yang mencerdaskan kita melalui perantaraan aktivitas belajar. Ketika bekerja membuat kita berharta, tetapi Dialah yang memberikan harta untuk kita melalui perantaraan aktivitas kerja. Begitu pula shalat Dhuha, hakikatnya bukan shalat Dhuha itu sendiri yang membuat kita kaya, melainkan atas rahmat dan karunia-Nya kita dijadikan-Nya kaya.

Karena itu, perlu diwaspadai akan adanya di antara kaum Muslimin yang begitu bersemangat mengarjakan shalat Dhuha namun ironisnya kita melaksanakan shalat fardhu mereka justru bermalas-malasan dan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Mengapa? Karena ada tujuan lain ketika mereka mengerjakan shalat Dhuha, yaitu sekedar ingin mendapat balasan di dunia; biar lancer rezekinya dan menjadi orang yang kaya raya. Dunia, mungkin saja mereka peroleh, bahkan boleh jadi rezekinya memang semakin lancer dan karirnya pun terus melejit. Namun, apa yang mereka peroleh di akhirat? Qatadah ketika menafsirkan surat Hud: 15-16, ia berkata, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan shalihnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun, ketika di akhirat dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlas dalam beribadah (yang hanya mengharapkan ridha Allah), selain akan mendapatkan balasan di dunia, dia juga akan mendapatkan balasannya di akhirat.”

Keempat, Tawakal.

Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah swt. untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah kemadharatan, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat.

Allah swt., berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan  barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (mencukupkan keperluannya).” (Q.s. Ath-Thalaq [65]: 2-3)

Barangsiapa mewujudkan ketakwaan dan tawakal kepada Dzat yang telah menciptakannya, maka dia akan dapat menggapai seluruh kebaikan yang ada dalam dinul Islam dan juga kebaikan di dunia.

Dari Umar Bin Khattab r.a., ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, seperti seekor burung; pagi-pagi ia keluar dari (sarangnya) dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang’.” (H.r. Ahmad dan Tirmidzi)

Mewujudkan tawakal bukan berarti meniadakan ikhtiar atau mengesampingkan usaha. Takdir Allah dan sunnatullah terhadap makhluk-Nya terkait erat dengan ikhtiar makhluk itu sendiri. Sebab, Allah swt. telah memrintahkan hamba-Nya untuk berikhtiar, dan di saat yang sama Dia juga memerintahkan pada hamba agar bertawakal.

Allah berfirman, “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu sekalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan’.” (Q.s. At-Taubah [9]: 105)

Pada ayat yang lain disebutkan, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka betawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyuki orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Q.s. Al-Imran [3]: 159)

Dengan empat dimensi tersebut (Doa, Usaha, Iman, dan Tawakal), kita tidak perlu lagi meragukan kedahsyatan energy shalat Dhuha sebagai saran penjemputan rezeki dan pembimbing untuk menjadi kaya. Jadi, untuk apa kita menunda shalat Dhuha? Luangkan waktu setiap pagi dan lakukan segera, Insya Allah dengan rahmat-Nya kita akan dijadikan-Nya kaya! Amin

Administrator

  27 Sep 2017

Kontak Kami