“Setiap hari aku sudah ber-Dhuha, bahkan doa yang aku rapalkan pun amat panjang, tetapi mengapa aku tak kunjung kaya? Aku tetap saja jadi penjual Koran, pedagang di pasar tradisional, dan sebagainya.” Umapatan semacam ini kerapkali kita dengar, bahkan tidak jarang kalimat tersebut keluar dari bibir kawan atau saudara kita.
Lalu, bagaimana kita menanggapinya? Jika pertanyaan ini mampir di pendengaran penulis, penulis akan menjawab:
Jika akhirat yang Anda jadikan ukuran kesuksesan dan kekayaan, sebetulnya saat ini Anda telah berproses menuju kesuksesan dan kakayaan yang hakiki di sisi Allah swt., selama Anda mendirikan shalat Dhuha secara istiqamah dan lillah (semata karena Allah). Tetapi, jika dunia yang Anda jadikan ukuran kesuksesan dan kekayaan, maka ada beberapa kemungkinan yang menyeabkan Anda tidak pernah menjadi “sukses dan kaya”.
Untuk itu, mari kita koreksi kualita Dhuha masing-masing! Jangan-jangan ibadah kita masih berparadigma “STMJ” (Shalat Terus, Maksiat Jalan). Nah, jika ini terjadi, agar semakin dekat dengan Tuhan maka kulalitas “S” harus dijelitkan dan intensitas “M” harus di rendahkan hingga titik yang paling rendah.
“Tetapi, mengapa ‘kesuksesan’ tidak pula kunjung tiba? Saya tetap saja miskin, tak berkedudukan, dan terus saja berada dalam strata sosial terendah di masyarakat. Mengapa begini?”
Jangan mengeluh dan keburu marah! Jangan pula putus asa! Pada hakikatnya, “ketidaksuksesan” kita di dunia kemungkinan besar merupakan bentul kasih saying Allah untuk membuat kita lebih sukses di negeri keabadian, yaitu akhirat. Allah tentu Mahatahu. Dia mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi; yang sudah lalu, sekarang, atau yang akan datang. Allah Maha Mengetahui semuanya. Jika “kesuksesan” di dunia tidak kita raih, maka berbaiksangkalah kepada Allah, bahwa Dia tentu memiliki kehendak lain yang lebih baik dari sekadar “kesuksesan” semu di dunia ini.
Misalnya, ketika Allah membuat kita miskin harta, pada dasarnya Dia tahu bahwa seandainya seluruh kekayaan dilimpahkan kepada kita, barangkali bukan ketaatan yang kita tingkatkan tapi justru kita semakin sombong dan durhaka kepada-Nya. Mungkin kita memang menjadi hartawan di dunia, tetapi di akhirat kelak tidak menutup kemungkinan akan menjadi makhluk paling miskin dan jauh dari kasih-Nya. Karena, semasa kaya kita lupa beribadah kepada-Nya, lupa bersedekah, dan lebih banyak melakukan maksiat. Tengoklah kisah Qarun yang dijadikan kaya oleh Allah Ta’ala, tetapi kemudian ia binasa dan terlempar ke neraka. Mengapa? Tiada lain adalah karena kekayaannya justru membuatnya sombong, ingkar, dan jauh dari Allah.
Allah swt. berfirman, “Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (Q.s. An-Nisa [4]: 135)
Rahasia seperti inilah yang tidak pernah kita ketahui. Penyebabnya adalah setiapkali berbicara tentang hakikat sukses dan kaya, kita cenderung menggunakan standar materi duniawi sehingga tidak mengherankan jika kemudian kita semakin dibuat buta dan tidak mampu melihat rahasia rahmat Allah ini. Mari kita renungkan baik-baik!
27 Sep 2017