Seorang manager yang akan memasuki masa pensiun sebut saja Tuan X dikenal sebagai pekerja keras, namun selain bekerja ia juga rajin mengikuti kajian-kajian keislaman terutama tasawuf dan memiliki seorang guru pembimbing.
Pada suatu pagi, seperti hari-hari kerja yang ia lalui Tuan X mengeluarkan mobilnya dari garasi. Namun pagi ini ada yang berbeda ia tidak segera tancap gas menuju kantor, baru saja mobilnya keluar perlahan dari garasi ia matikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia melihat pohon yang terletak persis didepan samping garasinya ada sebuah sarang burung, disarang burung tersebut ia melihat seekor burung sendirian dengan sayap yang patah dan sepertinya matanya buta. Dengan kondisi seperti itu burung tersebut tentu tidak bisa terbang untuk mencari makan, Tuan X bergumam “Bagaimana si burung itu bisa makan jika cacat seperti itu? Bukankah setiap mahluk pasti Allah kasih rezekinya? Jika benar Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang pastilah burung itu tidak akan mati kelaparan. Tapi bagaimana ia bisa makan?”
Tidak lama setelah Tuan X bergumam, ia melihat seekor burung lainnya terbang dan hinggap disarang tersebut. Burung yang hinggap itu kemudian memberikan makan kepada burung yang cacat, “Subbhanallah, Ya Allah, Engkau Maha Pemberi Rezeki!” ucap Tuan X dengan nada takjub melihat peristiwa yang luar biasa didepan matanya.
Cukup lama Tuan X terdiam sambil memandang burung yang cacat tersebut menikmati rezekinya, lalu ia masuk kembali kedalam mobilnya dan mesin mobil kembali dinyalakan. Tetapi, mobil tersebut tidak berjalan kedepan meninggalkan rumah melainkan ia mundurkan dan memasukkan kembali kedalam garasi.
Tuan X kembali masuk kedalam rumah, istrinya yang sedang memasak terheran-heran melihat perbuatan Tuan X namun tidak sempat bertanya karena Tuan X langsung berkata “Ma, hari ini saya tidak masuk kantor dulu. Ada yang harus saya selesaikan.” Tuan X langsung masuk kekamar dan menguncinya dari dalam, sambil rebahan ia bergumam “Mulai hari ini, saya tidak perlu kerja lagi. Saya akan segera menghadap pimpinan untuk mengajukan pengunduran diri, saya mau habiskan hidup saya untuk beribadah kepada Allah SWT toh sebagian anak sudah kerja tinggal si bungsu yang masih sekolah, tapi biarlah ia menjadi tanggungan kakak-kakaknya begitu pula istri. Allah SWT telah menunjukkan kekuasaanNya kepada saya hari ini, burung cacat yang tidak bisa terbang saja tetap Allah jamin rezekinya tentu saya juga. Jika Allah sudah menjamin rezeki saya, mengapa saya harus kerja lagi?”
Tuan X kemudian terdiam sambil terus memandang langit-langit kamarnya, tidak lama kemudia ia mengambil HP dan berkata “Tapi, saya perlu meminta pendapat guru saya dulu.” Ucapnya.
“Assalamualaikum, halo Pak Kyai apa kabar? Gumamnya. “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakaatuh, Alhamdulillah kabar saya baik. Ada apa ya? Tumben telpon saya.” Jawab Pak Kyai. “Begini Pak Kyai, tadi sebelum kerja saya melihat seekor burung disarangnya sendirian dengan sayap yang patah dan sepertinya matanya buta. Pak Kyai dengan kondisi seperti itu burung tersebut pasti tidak bisa terbang untuk mencari makan, saya berkata sendiri ‘Bagaimana si burung itu bisa makan jika cacat seperti itu? Bukankah setiap mahluk pasti Allah kasih rezekinya? Jika benar Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang pastilah burung itu tidak akan mati kelaparan. Tapi bagaimana ia bisa makan?’ tidak lama saya berkata seperti itu seekor burung lainnya terbang dan hinggap disarang tersebut, burung yang hinggap itu kemudian memberikan makan kepada burung yang cacat. Subbhanallah, peristiwa didepan mata saya ini betul-betul mengguncang diri saya Pak Kyai, saya ingin berhenti bekerja Pak Kyai toh saya sebentar lagi pensiun sebagian anak-anak udah kerja, yang masih jadi tanggungan saya biarlah anak-anak saya yang udah kerja itu yang mengambil alih. Saya betul-betul ingin menghabiskan sisa hidup saya untuk ibadah kepada Allah.”
Pak Kyai dengan bijak berkata, “Kamu salah mengambil pelajaran, bukan itu yang Allah maksud dengan memperlihatkan kekuasaanNya kepadamu melalui burung-burung itu. Allah ingin kamu tetap seperti burung yang datang dan memberikan makan, bukan menjadi burung yang cacat itu. Bukankah Rasulullah SAW bersabda “Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah?” Tuan X terdiam, tertegun mendengar perkataan gurunya. Setelah mengucapkan salam kepada Pak Kyai dan menutup HP-nya ia bergegas bangkit dan keluar kamar menuju garasi mobil sambil berteriak kepada istrinya yang sedang asyik memasak “Ma, saya kekantor dulu ya!”
20 Mei 2017