Ini adalah kisah nyata dari pengalaman pribadi saya, dengan harapan agar kisah saya, dengan harapan agar kisah saya dapat dijadikan motivator bagi rekan-rekan yang mengalami nasib serupa saya.
Saya adalah karyawan bank yang mempunyai penghasilan yang bisa dibilang lumayan. Kredit pun bertebaran karena mudahnya persetujuan aplikasi. Dan hal itu juga yang menyebabkan hutang saya menggunung karena begitu mudahnya kredit saya terima. Dari kartu kredit yang nilainya jutaan sampai KTA yang nilainya puluhan juta. Akhirnya, penghasilan yang saya terima tiap bulan menjadi minus karena pemotongan cicilan tiap bulannya.
Sebelumnya, saya pun bukanlah orang yang relijius. Shalat jarang saya laksanakan, apalagi puasa. Saat shalat Jum’at, saya malah nongkrong di tempat lain dan sering meremehkan orang yang melaksanakan shalat. Saya malah sempat berujar, “Hei, ngapain sih shalat? Emang kalo beres shalat, ada yang ngasih duit?!”
Tetapi, saat saya ditimpa bencan finansial karena tagihan saya, bukan sadar, saya malah marah kepada Allah. Di saat anak saya membutuhkan susu dan pampers, uang sekolah, dan saya tidak bisa memenuhinya, saya malah marah kepada Allah. “Ya Allah, tega bener Kamu menelantarkan keluarga saya!!”
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, istri saya berjualan ras, sedangkan saya berjualan telur asin. Hasilnya jelas jauh dari cukup. Sampai suatu hari, saya menonton acara Yusuf Mansur yang mengatakan bahwa hutang adalah salah satu belitan dari ular berkepala sembilan yang diakibatkan kita sering meninggalkan shalat.
Di saat itu, saya seperti diberi hidayah dan langsung mendisiplinkan shalat, termasuk shalat Dhuha. Diri saya pun seperti haus ilmu dan selalu mencari tambahan ilmu baik dari majelis taklim maupun dari acara di TV.
Awalnya memang tidak terjadi sesuatu, tapi saya ingta ucapan Yusuf Mansur; kalau kita sudah kelamaan tidak melaksanakan shalat, maka ada proses untuk penghapusan dosa dulu untuk menghilangkan pembatas antara kita dengan Allah, barulah Insya Allah keinginan kita terpenuhi.
Selama hampir satu tahun, kondisi keuangan saya tidak berubah. Kebutuhan sehari-hari pun di-supply oleh istri saya yang pada akhirnya malah menggunakan uang modal yang mengakibatkan tidak dapat berjualan lagi.
Tetapi alhamdulillah, saya tetap yakin akan pertolongan dari Allah. Dan, justru setelah saya mulai berhenti main hitung-hitungan dengan Allah, maksudnya saya ngitung kalo saya shalat kudu dapet rejeki, justru di sanalah rejeki mulai bertebaran. Meskipun saya masih belum mendapatkan penghasilan dari kantor saya, tetapi rejeki berdatangan dari sana-sini.
Sering sekali saya berangkat dari rumah tanpa membawa uang sepeser pun, dan alhamdulillah saat pulang saya dapat membawa uang untuk kebutuhan hidup. Hutang pun meski belum terbayar, tapi saya merasa sangat diringankan dengan berkurangnya telepon dari debt collector, dan lain-lain.
Yang sempat membuat saya trenyuh, pernah keita ada rapat di kantor dan saat maghrib saya melaksanakan shalat di mushalla. Saat selesai shalat, tiba-tiba di belakang ada rekan saya yang langsung menyerahkan amplop; uang rapat katanya. Langsung saya teringat akan ucapan saya dulu yang meremehkan rekan yang shalat, dan saya pun langsung tersungkur memohon ampun dari Allah swt..
Inti dari cerita ini adalah semakin kita menggantungkan hidup kita hanya kepada Allah swt., semakin kita akan merasakan bantuan dai-Nya. Percayalah!
27 Sep 2017