Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Setiap orang tidak menginginkan hidup menderita. Selama hidup di dunia manusia tentu ingin bahagia, dan sesudah kematian pun ingin hidup bahagia. Bahkan manusia rela hidup menderika di dunia, dengan harapan dapat hidup bahagia di surga. Ketika seseorang telah menjadi kaya (dalam maknanya yang hakiki), secara otomastis pula kebahagiaan akan di rengkuhnya. Tetapi, apa sebenarnya kebahagiaan itu?
Kebahagiaan adalah kualitas yang begitu akbar. Itulah sebabnya orang tidak pernah sepakat tentang suatu rumusan apa yang disebut bahagia. Rumusan tentang suatu kualitas keberadaan selalu merupakan reduksi atau pemikisnan kualitas itu sendiri. Karena, kebahagiaan itu hanya hadir sepotong-sepotong pada manusia.
Ternyata kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan kekayaan dan kemiskinan. Kebahagiaan adalah sejenis sikap. Suatu cara berpikit, dan cara mengada. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh hal-hal di luar diri manusia. Kebahagiaan itu ada dalam diri tiap manusia itu sendiri, tinggal memilih apakah saya akan hidup bahagia atau tidak.
Tidak ada bahagia tanpa kebenaran dan kebaikan. Kebenaran dan kebaikan juga kualitas yang dapat jadi masalah kalau dirumuskan secara rasional. Yang benar dan yang baik hanya ada di kepala tiap orang. Suatu perbuatan bisa tidak baik dan tidak benar bagi seseorang, tetapi bisa benar dan baik bagi orang lain. Namun, sebagaimana kebahagiaan, kebenaran dan kebaikan adalah kehadiran lewat perbuatan. Bahagialah manusia yang matanya mampu melihat kebaikan dan kebenaran, telinganya mampu mendengar kebaikan dan kebenaran, dan hati nuraninya tergetar oleh apa yang dilihat dan didengarnya.
Tidak ada bahagia tanpa merasa puas atas kecukupannya. Manusia yang tidak pernah merasa puas dan tidak merasa cukup adalah penderitaan. Manusia yang tidak pernah merasa cukup, manusia serakah, tidak ada puas kalaupun harta seluruh dunia menjadi miliknya; kalaupun seluruh umat manusia di bawah perintahnya. Orang seperti ini, surga pun dicelanya. Kritikannya tiada habis karena orang seperti ini tidak mengenal kesempurnaan dan kesederhanaan.
Tidak ada bahagia tanpa kedamaian dan ketentraman. Ini juga kualitas, kehadirannya hanya bisa diselami, dirasakan, oleh yang mengalaminya. Mereka yang menolak sakit, menolak kematian, menolak kekurangan, menolak kegagalan, adalah penderitaan.
Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan tanpa syarat. Kebahagiaan berasal dari hati. Sejauh kita bisa mengkondisikan hati untuk menerima apa yang ada, maka kita bahagia. Jika ada syarat-syarat yang kita cantumkan untuk mencapai kebahagiaan, maka itu justru akan membuat kita susah untuk bahagia.
Itulah beberapa rumusan rasional tentang hidup bahagia. Jelas ini tidak memadai. Mereka yang bahagia tentu akan merasakan bahwa banyak aspek bahagia yang tidak disebutkan di sini. Ternyata, bahagia tidak dapat dirumuskan dan dikatakan hanya dengan sebaris kata atau selembar tulisan.
Kita mungkin sering berpikir betapa indahnya hidup jika terus-menerus bahagia. Tetapi, menurut Loewenstein, ini adalah pemikiran yang keliru “Padahal, mungkin yang kita butuhkan adalah naik-turunnya tingkat kebahagiaan kita. Mungkin itulah sebagian dari arti hidup kita: saat-saat senang dan saat sulit,” lanjut Loewenstein. Jadi, kita tidak perlu terus-menerus bahagia untuk bisa hidup bahagia. Sebab, kebahagiaan yang konstan mungkin bukan hal yang baik bagi hidup kita.
Kita bisa merasakannya seperti sekarang; saat sedang bahagia, kita bisa merasa lebih bahagia lagi jika mengingat masa-masa sulit. Dan, pada masa-masa sulit, kita bisa berharap bahwa suatu saat keadaan kita akan berubah dan kita pun akan merasa bahagia. “Kombinasi dua hal inilah yang membuat hidup terasa lebih menarik,” papar Loewenstein.
Allah swt. berfirman, “Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Telah hilang bencana-bencana itu padaku’; Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.” (Q.s. Hud [11]: 10)
Jadi, letak kebahagiaan adalah jika kita benar-benar memiliki kekayaan hati dan bukan sekadar kekayaan materi. Lantas, apa indikator kebahagiaan itu? Sahabat Ibnu Abbas memberi jawaban yang gamblang tentang hal ini. Menurutnya, da tujuh indikator kebahagiaan seseorang di dunia:
Pertama, qalbun syakirun (hati yang selalu bersyukur)
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa pun pemberian Allah Ta’ala, sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stres. Penerimaan yang disertai syukur, dalam termologi agama Islam disebut qana’ah. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah swt., sehingga apa pun yang diberikan Allah ia justru terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Tidak mengeluh atau merasa “dizalimi” oleh Allah. Bila sedang kesulitan, maka ia segara mengingat sabda Nabi saw., “Kalau kita sedang sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita.”
Apabila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadah. Kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap tahan uji bahkan terus bersyukur, maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar. Maka, berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua, al-azwaj ash-shalihah (pasangan hidup yang shalih).
Pasangan hidup yang shalih akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Di akhirat kelak, seorang suami akan diminta pertanggungjawabandalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalihan. Berbahagialah seorang istri bila memiliki suami yang shalih, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang shalih. Demikian pula seorang istri yang shalih, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah seorang suami yang memiliki istri yang shalihah!
Ketiga, al-aulad al-abrar (anak yang shalih)
Saat Rasulullah saw. sedang thawaf, beliau bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Seusai thawaf, beliau bertanya kepada anak muda itu, “Kenapa pundakmu itu?” Pemuda itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika shalat, atau ketika istirahat selain itu sisanya saya selalu menggendongnya.” Lalu pemuda itu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?” Nabi saw. menjawab sambil memeluk anak muda itu, “Sungguh, Allah ridha kepadamu. Kamu anak yang shalih, anak yang berbakti. Tapi anakku, ketahuilah bahwa cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua, namun minimal kita bia memulainya dengan menjadi anak yang shalih, di mana doa anak yang shalih kepada orangtuanya dijamin dikabulkan Allah swt.. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang shalih!
Keempat, al-bi’ah ash-shalihah (lingkungan yang kondusif untuk iman kita).
Yang dimaksud dengan lingkunagn yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapa pun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih. Orang-orang yang shalih akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila berbuat kesalahan. Orang-orang shalih adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah, cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shalih!
Kelima, al-mal al-halal (harta yang halal)
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tatapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab shadaqah, Rasulullah saw. pernah bertemu dengan seseorang yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus,” kata Nabi. “Namun syang makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalmu didapat secara haram, bagaimana doamu akan dikabulkan?” Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci, dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya!
Keenam, tafaqquh fi ad-din (semangat untuk memahami agama).
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu. Semakin ia belajar, semakin ia cinta kepada agamanya dan semakin tinggi pula cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah akan memberi cahaya bagi hati. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya. Hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka, berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, umur yang barakah.
Umur yang barakah itu artiya umur yang semakin tua semakin shalih, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya. Ia pun cenderung kecewa dengan ketuannya (post–power syndrome). Disamping itu, pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya. Maka ia pun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum sempat ia rasakan. Hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya.
Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak memperiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah), maka semakin tua semakin ia rindu untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takut untuk meninggalkan dunia, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti dijanjikan Allah. Maka, berbahagialah orang-orang yang umurnya barakah!
27 Sep 2017