Rupanya, kelompok gender memiliki pengaruh yang berbeda pada taraf kesehatan. Dalam berbagai penemuan penelitian (dalam Sarafino, 1996; Papalia et al., 1998) dikatakan bahwa kaum laki-aki cenderung mudha terserang penyakit kanker jantung daripada wanita. Namun demikian, wanita mudah terserang penyakit sistem reproduksi, gangguan makan (anorexia, bulimia) dan osteoporosis (pengeroposan tulang).
Gangguna-gangguan tersebut erat kaitannya dengan pola perilaku/kebiasaan ataupun keperibadian. Kebiasaan merokok atau minum-minuman alkohol misalnya, sebagian besar dilakukan pria daripada wanita. Asap rokok yang diisap kontinu akan menggangu saluran pernapasan. Padahal, pada saat proses pernapasan berlangsung, paru-paru mengeluarkan oksigen dalam darah. Sementara itu, jantung bekerja memompa darah untuk disalurkan ke seluruh pembuluh darah dalam organ tubuh. Pada individu yang mempunyai kebiasaan merokok, darahnya terlah terkontaminasi dengan zat nikotin. Zat tersebut dapat membuat darah menjdai makin kental sehingga dapat menghambat proses pemompaan darah yang dilakukan jantung. Akibatnya, terjadi gagal jantung kerena tidak berfungsi dengan lancar, terhambat oleh kekentalan/kebekuan daran yang mengakibatkan individu mati mendadak (sudden death).
Wanita yang memasuki masa dewasa muda sering kali menghadapi masalah yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Setelah menginjak masa dewasa muda, seorang wanita tidak secara otomatis dapat menghadapi siklus menstruasi yang datang setiap bulan. Bagi wanita yang terbiasa dan tegar dalam menghadapi masalah itu, tentu tak menimbulkan masalah lanjutan. Sebaliknya, bagi individu yang masih merasa sulit, tentu hal ini membawa dampak tersendiri. Dalam kajian psikologi yang berkaitan dengan bidang biologi, Papalia, Olds, dan Feldman (1998) menyatakan tentang Premenstrual syndrome (PMS) ataupun premestrual disphoric disorder (PMDD).
Premenstual syndrome (PMS) adalah gangguan-gangguan emosi dan nyeri secara fisik selama 1-2 minggu sebelum terjadinya proses menstruasi. Tanda-tanda fisiologis awal terjadinya cepat lelah (fatigue), mual-mual (nausea), tak nafsu makan, kaki atau tangan merasa bergetar, dan sakit perut, sedangkan secara psikologis ditandai dengan perasaan cemas (anxiety), tak berdaya (hopeless), depresi, mudah tersinggung (iritability), dan sulit berkonsentrasi atau mengingat (difficulty of consentration or remembering). Sebanyak 3-5 persen wanita mengalami premenstrual disphoric disorder (PMDD), yaitu gangguan kelambatan dalam menstruasi yang terjadi selama wanita mengalami depresi.
Penyebab PMS dan PMDD tidak dapat dideteksi jelas. Pada umumnya, disebabkan faktor budaya dan psikososial (misalnya hubungan putus dengan kekasih, pacar). Paling sedikit wanita yang berlatar belakang tiga budaya memiliki simtom, antaranya swelling, mudah marah (iritability), gangguan payudara (breast pain), mood swing, dan mudah capai, letih (fatigue).
29 Sep 2017