Tak selamanya suatu gangguan penyakit itu disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat biologis atau fisiologis. Kadang-kadang perilaku yang biasa dilakukan oleh individu yang berangkutan, baik yang disadari maupun yang tak disadari, membawa dampak terhadap munculnya gangguan penyakit. Kondisi psikologis seseorang akan mempengaruhi bagaiman kondisi fisiknya.
Kondisi emosi yang tak stabil (amarah, cemas, stres, khawatir, dan takut) akan merangsang saraf simpatetis untuk mempercepat detak jantung guna memompa darah yang akan dialirkan ke seluruh organ jantung. Ketika detak jantung bekerja secara cepat, aliran darah itu akan merangsang suhu tubuh naik. Akibatnya, dapat merangsang kelenjar keringat untuk mengeluarkan cairan. Ibaratnya, seorang yang melakukan olahraga lari secara terus-menerus, suatu ketika ia akan lelah juga. Demikian pula, bila kondisi tersebut terus-menerus terjadi dan menyebabkan jantuk bekerja dengan cepat tanpa henti, suatu ketika pun, jantung bisa berhenti (tidak bekerja untuk memompa darah). Akibatnya, bisa menyebabkan jantung berhenti (gagal jantung) dan berakhir dengan kematian.
Dalam keadaan stabil, misalnya merasa tenang, nyaman, tenteram, dan damai, sistem sataf otonom akan merangsang kerja saraf parasimpatis, yaitu bekerja menormalkan kerja organ-organ internal, seperti jantung, paru-paru atau lambung. Dalam keadaan stabil ini, kerja jantung memompa darah yang akan dialirkan ke seluruh tubuh agara dapat berjalan secara teratur, normal, dan lancar. Demikian pula paru-paru dalam melakukan tugas pernapasan dapat berjalan normal, tanpa ketegangan-ketegangan yang menghambat proses repirstory. Hal ini juga diiuti kerja lambung dalam melakukan gerakan peristaltik untuk mengolah makanan dengan baik. Itulah sebabnya, kondisi emosi stabil memungkinkan seseorang untuk menikmati kesehatan dan dapat memperpanjang usia harapan hidup.
Para ahli psikologi, seperti Sarafino (1994), Santrock (1999), dan Taylor (1999) mengemukakan kepribadian tipe A dan tipe B. Kepribadian orang yang tergolong tipe A cenderung memiliki kebiasaan bekerja secara cepat, terburu-buru, kurang istirahat, dapat menikmati suasana stres kerja yang tinggi tarafnya, dan berorientasi pada pekerjaan (tasks oriented) daripada orientasi sosial (social ariented). Kondisi orang yang bertipe A ini, cenderung memacu kerja jantung secara kontinu. Sebaliknya, tipe B cenderung lamban, santai, tak tahan menghadapi suasan stres, menyukai rutinitas dalam kerja, dan berorientasi pada relasi sosial. Kondisi demikian membuat kerja jantung secara normal.
Melihat kerakteristik tersebut, dapat diketahui mengapa tipe A lebih banyak menghadapi stres terus-menerus. Akibatnya tipe A lebih mudah terkena gangguan kesehatan, seperti hipertensi dan gangguan jantung dibandingkan dengan orang yang bertipe B.
29 Sep 2017