E.Merokok

Tak dipungkiri, sebagian kelompok dewasa muda baik laki-laki maupun wanita memiliki kebiasaan merokok. Merokok bagi sebagian orang sudah menjad bagian hidup (life style). Mereka sulit untuk menghentikan kebiasaan ini karena sudah mendarah daging. Tentu awal mula individu mempunyai kebiasaan merokok tak lepas dengan bagaimana sikapnya terhadap rokok itu sendiri.

Sikap merupakan predisposisi perilaku seorang indvidu. Pada dasarnya, sikap memiliki tiga koponen, yaitu (1) komponen evaluative; (2) komponen kognitif; (3) komponen prilaku.

  1. Komponen evaluative (evaluative component) merupakan aspek emosi/afeksi, yakni sejauh mana individu menilai, mengevaluasi atau menghargai terhadap suatu objek tertentu. Bila ia memiliki penilaian yang positif, berarti ia setuju terhadap objek tersebut. Sebaliknya, nila penilaiannya negative, ia merasa tak setuju terhadap terhadap objek itu. Penilaian positif cenderung membuat seseorang bersikap toleransi terhadap penggunaan rokok, sebaliknya penilaian negative cenderung bersikap tidak toleransi. Orang yang bersikap toleransi terhadap rokok kemungkinan dapat menjadi perokok. Sementara itu, orang yang tidak toleransi, cenderung akan menolak atau tidak menjadi perokok.
  2. Komponen kognitif (cognitive component) bersumber pada kemampuan kognitifnya, yaitu sejauh mana individu mengetahui suatu obajek tertentu. Pengetahuan tersebut mencakup sisi positif ataupun negatif. Bila ia merasa mengetahui lebih banyak hal yang positifnya daripada negatif, ada kecenderungan ia setuju dan mau melakukan hal yang dimaksudkan. Namun, kalau apa yang diketahui ternyata lebih banyak unsur negative dari pada unsur positif, individu cenderung menghindar, menjauhi, dan tidak setuju terhadap hal itu. Ketidaksetujuan akan membuat individu tidak melakukan apa yang tidak disetujuinnya.
  3. Komponen perilaku (behavioral component) ialah sejauh mana individu merespons apa yang dinilai ataupun yang diketahuinya. Komponen ini lebh mengarah pada komitmen individu yang bersangkutan. Kalau komitmennya cenderung untuk terpengaruh pada hal-hal negatif atau positif, individu akan menindaklanjuti dalam kenyataan. Artinya, ia akan berperilaku seusai dengan komitmen tersebut.

Ketiga komponen tersebut dapat dijelaskan melakui skema dibawah ini. Skema ini pun dapat dikenakan pada sikap pengguna narkoba karena kedua tipe tersebut secara prinsip memiliki kesamaan.

 
 

Gambar 1.4 skema komponen-komponen sikap terhadap rokok

  1. Alasan-alasan Merokok

Tomkins (dalam Sarafino, 1994) menyatakan beberapa alasan individu untuk memiliki perilaku kebiasaan merokok, antara lain (a) pengruh positif (positive affect); (b) pengaruh negatif (negative affect); (c) kebiasaan (habitual); (d) ketergantungan psikologis (psychological dependent).

  1. Pengaruh positif, yakni individu mau merokok karena rokok memberi manfaat positif bagi dirinya. Ia menjadi senang, tenang, dan nyaman karena memperoleh kenikmatan dengan merokok. Misalnya, sambil menonton televisi atau setelah makan, individu merokok. Tujuannya untuk memperoleh atau menambah kenikmatan.
  2. Pengaruh negatif, yaitu merokok dapat meredakan emosi-emosi negatid yang dihadapi dalam hidupnya. Misalnya, ketika dalam keadaan cemas, (misalnya menghadapi ujian, suami yang menunggu kelahiran anaknya) individu merokok sehingga akan membuat kondisi fisiknya menjadi rileks, tenang, dan santai. Dengan demikian, ia merasa tak tegang atau merasa cemas lagi.
  3. Habitual (ketergantungan fisiologis) ialah perilaku yang sudah menjadi kebiasaan. Secara fisik, individu merasa ketagihan untuk merokok dan ia tak dapat mengindar atau menolak permintaan yang berasal dari dalam diri (internal). Akibatnya, ia harus merokok. Jadi, dengan terus-menerus merokok baik dalam keadaan menghadapi suatu masalah maupu keadaan santai, hal itu akan menjadi suatu kebiasaan. Bahkan, menjadi gaya hidup (life style).
  4.  

Ketergantungan psikologis, yaitu kondisi ketika individu selalu merasakan, memikirkan, dan memutuskan untuk merokok terus-menerus. Dalam keadaan apa saja dan di mana saja, ia selalu cenderung untuk merokok.

 
 

Gambar 1.5 Skema alasan-alasan merokok (diolah kembali dari Sarafino, 1994)

  1. Tipe-Tipe Perokok

Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa tipe perokok itu ada dua jenis, yaitu perokok aktif (active smooker) dan perokok pasif (pasive smooker).

  1. Prokok aktif ialah individu yang benar-benar memiliki kebiasaan merokok sudah menjadi bagia hidupnya sehingga rasanya tak enak kalau sehari tak merokok. Oleh karena itu, ia akan berupaya untuk mendapatkannya.
  2. Prokok pasif, yaitu individu yang tak memiliki kebiasaan merokok, namun terpaksa harus menghisap asap rokok yang diembuskan orang lain yang kebetulan di dekatnya. Dalam keseharian, mereka tak berniat dan tak mempunyai kebiasaan merokok. Kalau tak merokok, mereka tak merasakan apa-apa dan tak terganggu aktivitasnya. Tipe perokok ini dapat ditemui pada mereka yang duduk di halte, di dekat mereka ada seseorang atau beberapa orang yang sedang merokok. Jadi, perokok pasif dianggap sebagai korban dari perokok aktif.

Baik prokok aktif maupun pasif akan dapat menanggung resiko terganggunya kondisi kesehatan mereka.

  1. Merokok dan Gangguan Kesehatan

Sarafino (1994) menyatakan bahwa rokok mengandung tiga unsur zat, yaitu (a) karbomonoksida (carbomonoxide); (b) tar; (c) nikotin (nicotines).

  1. Karbomonoksida adalah suatu gas yang mudah diserap dalam saluran pembuluh darah, yang berakibat pada ketergantungan secara fisiologis (physiological dependency)
  2. Tar adalah zat partikel residu yang mungkin dapat menyebabkan gangguan penyakit kanker paru.
  3. Nikotin adalah bahan kimia yang bersifat adiktif, artinya bahan ini dapat memberi pengaruh ketergantungan secara psikologis.

 

Dalam berbagai studi, Papalia, Olds, Dan Feldman (1998) dan Sarafino (1994) menyimpulkan akibat negatif yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok. Gangguan kesehatan yang dialami oleh perokok, diantaranya kanker (kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker payudara, kanker ginjal/prostat/kandung kemih, kanker perut, kanker paru), penyakit jantung, dan gangguan pernapasan kronis.

  1. Strategi Mengatasi Kebiasaan Merokok

Memang sangat sulit untuk dapat mengatasi kebiasaan merokok bagi individu yang benar-benar mengalami ketergantungan rokok. Namun, tak mustahil masalah itu dapat diatasi dengan baik bila ada kemauan (tekad) yang kuat dari individu yang bersangkutan. Rasanya, pengetahuan saja tidak cukup. Perlu ada tindakan nyata untuk melakukan komitmen tersebut.

Salah satu cara untuk mengatasi kebiasaan merokok, Sarafino (1994) menyatakan bahwa perlu menerapkan strategi manajemen diri sendiri (self-management technique). Strategi itu dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu pemantauan diri sendiri (self-monitoring), kontrol stimulus (stimulus control), mengganti respons (response substitution), dan melakukan kontrak perjanjian (contingency contracting).

  1. Pemantauan diri adalah kemampuan individu untuk mengamati dan mengevaluasi sudah sampai sejauh mana dirinya memiliki perilaku kebiasaan merokok. Apakah tergolong ringan, sedang, atau berat. Berapa batang, bungkus atau pack (slop) rokok yang diisap setiap hari, minggu, bulan? Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membeli rokok  tersebut? Bagaimana kondisi kesehatan yang dialami selama merokok dan bagaimana dengan orang lain yang tidak merokok. Apakah ada perbedaannya atau tidak? Pemantauan diri yang baik akan menumbuhkan kesadaran yang mendorong individu pada suatu pertobatan. Artinya, individu menyadari akan akibat-akibat buruk yang dapat merugikan diri sendiri baik secara finansial maupun kesehatan. Dengan kesadaran tersebut, akhirnya individu mau mengambil komitemen untuk menghentikan kebiasaan merokok tersebut. Bila pemantauan diri tak sampai menumbuhkan suatu kesadaran dan komitmen untuk berhenti, berarti individu telah gagal dalam melakukan pemantauan diri.
  2. Kontrol stimulus adalah bagaimana upaya individu untuk mengatur dan mengontrol rangsangan yang muncul dari dalam diri ataupun dari laur dirinya. Mampukah ia mengatur agar dirinya tidak dikuasai oleh rangsangan tersebut? Dapatkah dirinya berkuasa atas apa yang dirasakan dari dalam diri ataupun apa yang berasal dari luar dirinya? Misalnya dari teman, teman kerja, atau lingkungan masyarakat. Bila ia mampu mengontrol, perlu dilakukan secara terus-menerus agar tercapai kebiasaan perilaku yang bebas rokok. Kontol stimulus yang baik ditandai dengan sikap asertif, yaitu keberanian untuk menolak tawaran-tawaran yang berasal dari lingkungan eksternal, yang cenderung mengajak individu untuk merokok. Kegagalan untuk bersikap asertif cenderung akan merugikan diri individu yang bersangkutan. Untuk itu, psikolog perlu membantu pengembangan diri bagi kelompok individu yang tak mampu bersikap asertif agar dapat melakukan tindakan dan sikap asertif.
  3. Mengganti respons adalah kemampuan individu menggantu respons ketika menghadapi suatu rangsangan itu muncul (baik dari dalam diri maupun dari orang lain), individu segera memutuskan untuk tidak menurutinya, tetapi diganti perilaku yang lain. Misalnya, dirinya terdorong untuk merokok, atau ditawarkan merokok maka ia perlu memakan permen atau gula-gula.
  4. Melakukan kontra perjanjian dengan orang lain, yaitu suatu kesepakatan yang dibuat antara dirinya dan orang lain  dangan tujuan untuk menghentikan kebiasaan merokok. Orang lain bisa teman sendiri, orang tua atau tenaga profesional. Sering kali yang terjadi ketika individu mengadakan perjanjian dengan teman atau orang tua, banyak dilanggarnya. Namun, untuk efektivitasnya, perlu perjanjian dengan ahli profesional (dokter, psikolog) agar ia benar-benar dapat menepati jnai tersebut secara efektif.

Jenis strategi man ayang dianggap paling efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok? Hal ini sulit untuk dijawab secara tepat. Jenis strategi apa saja sebenarnya dianggap baikm tetapi hal itu dianggap tidak baik (tidak efektif) apabila tidak disertai kesadaran diri  dan motivasi internal untuk menghentikan kebiasaan merokok (kebiasan buruknya). Mungkin seseorang menggunakan strategi yang sederhana, tetapi dari dalam diri seseorang sudah ada kemauan (niat) yang kuat untuk menghentikan kebiasaan merokok sehingga strategi tersebut dianggap baik (efektif). Jadi, peran dari individu yang bersangkutan itulah yang memegang peran penting tercapainya tujuan untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Administrator

  29 Sep 2017

Kontak Kami