DZIKIR YANG MEREDAM AMARAH MASSA

Kisah ini terjadi pada saat terjadinya demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM pada hari Jum’at 30 Maret 2012 kisah yang telah dilansir oleh banyak media massa ini terjadi di Kota Bandung tepatnya di Gedung Sate.

           Awalnya dalam kondisi saling berhadapan, para mahasiswa yang sedang berdemo berupaya memancing emosi aparat keamanan yang berjaga. Kata-kata seperti “Polisi pengkhianat bangsa, polisi pelindung kapitalis” diteriakkan pada demonstran, dua kubu sama-sama dalam kondisi emosional, kepanasan, dan lapar. Akibatnya, aparat sempat terpancing namun Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol.Abdul Rahman Baso langsung turun tangan agar bentrok tak terjadi. Kombes Pol. Abdul Rahman Baso kemudian meminta sekitar 1.500 aparat gabungan dari Dalmas Polda Jabar, Dalmas Polrestabes Bandung, serta pasukan dari Satbrimobda Jabar menenangkan diri begitu pula para polwan yang terjun ke arena demo sebagai negosiator . di dalam area Gedung Sate yang dibatasi pagar pembatas dengan pihak demonstran aparat kemudian duduk bersila melantunkan dzikir agar meredam emosi, lantunan dzikir “La Ilaha Ilallah” terus menerus disuarakan dengan keras dan serempak yang membuat para pendemo dari Gema Keadilan dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sontak terdiam dan terperangah dan demo berakhir dengan damai tanpa terjadi bentrokan.

           Tentu apa yang diputuskan oleh Kombes Pol. Abdul Rahman Baso bukan spontanitas dan tanpa alasan, ia tentu telah mengetahui akan firman Allah SWT didalam Al-Quran surat Ar-Raad ayat 28 yang artinya “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah (dzikrullah) maka hati tentram” dan ia telah membuktikan kebenaran firman Allah SWT tersebut kepada masyarakat luas betapa dzikir betul-betul dapat menentramkan hati, bukan saja si pelaku dzikir tetapi juga dapat menggetarkan orang yang mendengarkannya.mengapa demikian? Apa alasannya?

           Menurut Dr. Azhar Sarip yang telah membuat penelitian tentang adzan dan juga dzikir bahwa adzan dan dzikir yang dilantunkan memiliki frekuensi yang mendekati gelombang Theta (Alpha ke Theta). Gelombang Theta berada di 4 Hz-7,5 Hz atau dibawah sadar sedangkan gelombang Alpha ke Theta di 7,48 Hz.

           Pada gelombang Alpha ke Theta, seseorang masih terjaga tetapi sangat asyik dan khusyuk sehingga tidak mampu menganalisis atau menafsirkan apapun. Oleh karenanya di zaman Rasulullah SAW saabat yang terkena panah dibetis hanya melakukan shalat sunah disamping sahabat lain mencabut anak panah tersebut. Begitu tentram dan khusyuknya sehingga ia tidak merasa sakit ketika panah dicabut dari betisnya.

           Jika seseorang berada didalam frekuensi Alpha ke Theta ia akan merasa sangat tenang bahkan jika dzikir itu terus menerus dilantunkan maka pengaruhnya bukan hanya kepada si pelantun dzikir melainkan kepada mereka yang mendengarkan dzikir karena Gelombang Theta juga keluar dari mulut pelantun dzikir, berjalan, merambat di udara, dan masuk ke telinga orang yang mendengarkan. Ini pula yang menjelaskan fenomena beberapa kasus masuknya orang kedalam agama islam karena mendengarkan suara adzan atau lantunan ayat-ayat Al Quran karena Al Quran juga disebut dengan Adz Dzikir.

Administrator

  22 Mei 2017

Kontak Kami