Cara Syari Membuka Pintu Rezeki

Di antara kemurahan Allah swt. adalah Dia menjadikan salah satu sumber kebahagiaan manusia berupa harta. Karenanya, ketika Allah memerintahkan untuk mengejar kehidupan akhirat, Dia mengiringinya dengan perintah untuk mengambil bagian kesenangan duniawi. Jadi, mencari atau menyongsong duniawi bukanlah sesuatu yang salah selama tidak mengabaikan ibadah kepada Allah. Bahkan usaha tersebut bisa jadi bernilai pahala saat diniatkan untuk Allah Ta’ala.

Setiap anak Adam yang lahir ke dunia sudah mendapatkan jatah rezekinya. Tetapi, mengapa rezeki kadang begitu susah didapat? Jangan-jangan kita salah mengetuk pintu rezeki-Nya? Atau, kita salah memegang kunci? Atau kita tak punya kunci sama sekali untuk membuka pintu rezeki? Atau memang pintu itu masih tersumbat sehingga mesti dicari kuncinya agar bisa dibuka?

Dr. Fadhl Ilahi dalam bukunya Mafatih ar-Rizq fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunnah (Kunci-kunci Rezeki di Bawah Cahaya al-Kitab dan as-Sunnah) menyebutkan poin-poin penting amalan-amalan yang bisa menjadi sebab turunnya kemudahan dan keberkahan rezeki, di antaranya:

  1. Dengan memperbanyak istighfar dan taubat.

Beberapa nash Al-Qur’an dan hadits Nabi menyebutkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab datangnya rezeki. Allah swt. berfirman, “Maka aku katakana kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Q.s. Nuh [71]: 10-12)

Umar bin Khaththab juga berpegang paada esensi dan substansi ayat ini ketika ia diminta memohon hujan kepada Allah. Diriwayatkan, suatu ketika Umar Keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Ia tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu pulang. Seseorang betanya kepadanya,”aku mendengar ada mememohon hujan” maka Umar menjawab, “Aku memohon diturunkan  hujan dengan menengadah ke langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan.” Lalu ia membaca ayat 10-11 dari surat Nuh.

Hasan al-Bashri, seorang tabi’in, juga menganjurkan istighfar (memohon ampun kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan, dan kekeringana kebun-kebun. Imam al-Qurthubi mengisahkan, “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Hasan al-Bashri berkata, ‘Beristigfarlah kepada Allah!’ Yang lainnya mengadu kepadanya, ‘Doakanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!’ Maka, ia mengatakan kepadanya, ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya, ia pun berkata, ‘Beristighfarlah kepada Allah!’ Dalam riwayat lain disebutkan, Rabi’ bin Shabih pernah bertanya kepada Hasan al-Bashri, “Banyak orang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka untuk beristighfar.” Al-Bashri menjawab, “Aku tak mengatakan hal itu dari diriku sendiri, melainkan dari (firman) Allah swt..”

Dengan tegas pula Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscay Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (H.r. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’I, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Adapun langkah-langkah untuk bertaubat ialah:

  • Menyesali (an-Nadm) perbuatan yang terlanjur dilakukannya.
  • Menahan diri dari perbuatan maksiat (tidak lagi mengulanginya).
  • Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
  • Bila terkait dengan hak sesame, hendaklah meminta kerelaan orang yang dirugikannya, baik dengan mengembalikan barangnya atau meminta maafnya.

 

Tanpa langkah-langkah ini, taubat seseorang patut dipertanyakan keseriusannya.

 

  1. Dengan meningkatkan ketakwaan.

Hal lain yang bisa mengundang turunnya rezeki adalah meningkatkan ketakwaan. Allah swt. berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberikannya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Q.s. Ath-Thalaq [65]: 2-3)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Maknanya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.”

Dalam ayat lain, dengan jelas Allah menegaskan, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (Q.s. Al-A’far [7]: 96)

Ketika menafsirkan firman Allah ‘Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi’, Abdullah bin Abbas -seorang sahabat Nabi yang dikenal dengan keluasan ilmu- mengatakan, “Niscaya Kami lapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkannya dari segala arah.” (Tafsir Abu As-Su’ud, 3/253)

  1. Dengan bertawakkal kepada Allah.

Al-Mulla Ali al-Qari mengatakan makna tawakkal, yaitu hendaknya kalian mengetahui secara yakin bahwa tidak ada yang dapat berbuat di alam ini kecuali atas kendali Allah swt.. Setiap yang ada, baik makhluk maupun rezeki, pemberian atau larangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati, dan segala hal yang dikatakan makhluk di sini semuanya adalah dari Allah swt..

Tawakkal adalah satu rentetan dari amalan-amalan seorang Muslim dalam penyerahan secara total kepada Allah. Ketika sebuah usaha maksimal telah dilakukan, maka Allah akan menurunkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita.

Allah swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.s. Ath-Thalaq [65]: 3)

Sahabat Umar bin Khattab menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (H.r. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan lainnya)

  1. Dengan beribadah kepada Allah swt. secara total.

Di antara kunci rezeki lainnya adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi dan kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’.” (Al-Musnad, no 8681, 16/284: Jami’ut Tirmidzi, Abwabu Shifatil Qiyamah, no. 2583, 7/140)

Dalam hadits tersebut Nabi saw. menjelaskan, Allah menjajikan pada orang yang beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua hadiah. Yaitu, mengisi hati orang tersebut dengan kekayaan serta memenuhi kebutuhannya. Sebaliknya, Allah mengancam kepada hamba yang tidak beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua siksaan. Yaitu, Allah memenuhi kedua tangan orang itu dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya sehingga ia tetap membutuhkan manusia.

  1. Dengan memperbanyak silaturrahim.

Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah swt. menjadikan silaturrahmi termasuk di antara sebab kelapangan rezeki. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturrahim.”

Dalam hadits lain, Nabi saw. bersabda, “Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silahturrahim. Karena, sesungguhnya silaturahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (Kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia.” (Al-Musnad, no. 8855, 17/142; Jami’ut Tarmidzi, Abwabul Birri wash Shilah, bab Ma Ja’a fi Ta’limin Nasab, no. 2045)

Demikian besar pengaruh silaturahim untuk menumbuhkembangkan harta benda dan menepis kemiskinan, sampai-sampai harta ahli maksiat pun bisa berkembang karena keutamaan silaturrahim ini.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturahim. Bahkan, hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturahim, kemudian mereka (kekurangan).” (Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Birr wal Ihsan, bab Shilaturrahim wa Qath’iha, no. 440, 2/182-183)

Kalau ahli maksiat yang bersilaturahim pun dijanjikan Allah kelapangan rezeki bagaimana dengan ahli ibadah? Tentu ia akan lebih diprioritaskan oleh Allah dan mendapat kelapangan rezeki yang lebih luas daripada ahli maksiat.

  1. Dengan berinfak di jalan Allah swt..

Logika Islam tidaklah sama dengan logika materialism. Harta yang dikeluarkan untuk bersedekah, dengan segala bentuknya, bukannya akan berkurang justru akan semakin bertambah. Berinfak di jalan Allah akan semakin menyuburkan harta kita. Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik dari apa yang kita keluarkan.

  •  

Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya ketika ada panggilan infak untuk berjihad. Dengan berinfak itu, dia tidak jatuh miskin, bahkan masuk dalam daftar para sahabat yang kaya dan dijamin surga. Begitu pula dengan Umar bin Khattab yang menginfakkan setengah dari kekayaannya.

Rasulullah saw. bersabda dalam hadits qudsi, “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, berinfaklah niscaya Aku akan berinfak (member rezeki) kepadamu.” (H.r. Muslim)

  1. Memberi nafkah kepada orang yang mencari ilmu.

Keutamaan member nafkah kepada orang yang mencari ilmu dapat kita simak dalam sebuah riwayat Tirmidzi dan al-Hakim yang diceritakan oleh Anas bin Malik, bahwa:

“Dahulu, pada masa Rasulullah ada dua orang saudara. Salah seorang daripadanya mendatangi Nabi (Untuk mencari ilmu), dan yang satunya bekerja. Lalu, saudara yang bekerja itu mengadu kepada Rasulullah, maka beliau bersabda, ‘Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia’.”

Ibnu al-Mubarak, seorang tabi’in, pernah ditanya ketika dia memberikan nafkah kepada para ahli ilmu, “Mengapa engkau memberikan nafkah kepada mereka?” al-Mubarak menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada kedudukan para ulama. Jika hati para ulama itu disibukkan dengan mencari kebutuhan hidupnya (Sibuk mencari nafkah), niscaya ia tidak bisa member perhatian sepenuhnya kepada ilmu serta tidak akan bisa belajar dengan baik. Karena itu, membuat mereka bisa mempelajari ilmu aecara sepenuhnya adalah lebih utama.”

  1. Berbuat baik kepada orang-orang miskin dan lemah.

Memberi pertolongan kepada orang yang lemah adalah sedekah yang sangat afdhal. Karena keikhlasan menyedekahkan harta kepada orang-orang yang lemah, maka Allah akan membalas kita dengan mengucurkan rezeki dan pertolongan-Nya kepada kita.

Tentang pintu rezeki ini. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah kamu mendapat pertolongan (bantuan) dan rezeki kecuali karena orang-orang yang lemah dari kalangan kamu.” (H.r. Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan, “Allah selalu menolong orang selama orang itu selalu menolong saudaranya (sesame muslim).” (H.r. Ahmad)

  1. Penghambat Datangnya Rezeki

Allah swt. telah menciptakan semua makhluk-Nya secara sempurna dengan segala kelengkapannya, termasuk rezekinya masing-masing. Tak satu pun di antara makhluk-Nya yang Dia terlantarkan, termasuk diri kita. Pada prinsipnya, semua kebutuhan makhluknya terhadap rezeki telah dijamin pemenuhannya oleh Allah Ta’ala. Namun, Agar rezeki itu bisa sampai ke tangan sang makhluk, maka dibutuhkan partisipasi aktif dan usaha untuk menjemputnya. Karena itu, tidak salah jika Aa’Gym, Ustad Yusuf Mansur, dan lain-lain lebih suka mengatakan ‘menjemput rezeki’ daripada ‘mencari rezeki’.

Namun, perlu diketahui dan disadari makna sejati rezeki bukanlah sekadar uang melainkan ilmu, kesehatan, ketrentaman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, dan ketaatan. Semua itu adalah rezeki, bahkan nilainya lebih tinggi bila dibandingkan dengan uang.

Jika merasakan rezeki kita seret, lambat, atau bahkan macet, maa ada banyak kemungkinan penyebabnya. Bisa saja kelambatan atau bahkan kegagalan itu karena kekurangseriusan kita dalam bekerja menjemput rezeki yang telah disediakan-Nya. Bisa jadi karena kita memang malas dan enggan menjemputnya. Atau mungkin juga karena profesionalitas kita dalam bidang usaha yang kita geluti kurang tepat.

Namun, bisa pula seretnya rezeki disebabkan oleh kondisi-kondisi tertentu dalam diri kita yang akhirnya membuat Allah ‘menahan’ rezzeki untuk kita. Poin terakhir inilah yang akan kita kupas dan ulas di sini. Mengapa aliran rezeki kita terhalang, tersumbat, atau terlambat? Apa saja penyebabnya?

Ada beberapa hal yang menyebabkan rezeki kita tersumbat atau terhambat, di antaranya adalah:

  1. Hilangnya rasa tawakal kepada Allah.

Kadangkala ketika rezeki kita mulai mengalir, ada rasa bangga dalam diri kita merasa bahwa ini semua adalah hasil dari kerja keras dan semangat pantang menyerah yang ada dalam diri kita. Kita merasa super hebat dan luat biasa. Kita lupa bahwa semuanya itu tidak terlepas dari factor “x”, yaitu Maha Pemurah dan Pengasihnya Allah swt..

Ketika perasaan bangga dan super hebat itu muncul dalam dri kita, maka bersiaplah dan berhati-hatilah, karena itu adalah titik balik dari tanjakan kesuksesan kita. Dan itulah titik balik dimana kita bukannya naik, tetapi justru terus meluncur ke bawah. Bukankah Allah telah berfirman dalam sebuah hadist qusdi, “Aku menurut dugaan hamba-Ku kedapa-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku.” (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi). Maka, pada saat kita berponggah-ponggah ria dan lupa kepada-Nya, maka Dia Akan menganggap kita tidak lagi membutuhkannya. Di saat itulah Allah berpaling dari kita dan mencabut faktor “x” yang sebetulnya banyak mendominasi keberhasilan usaha kita.

  •  

Dari tadi kita membicarakan tawakkal, tetapi tahukah kita apa hakikat tawakkal itu? Ongkang-ongkang kaki dan berpangku tangan tanpa mau bekerja, seperti inikah tawakkal yang diajarkan oleh Nabi? Bukan, itu bukanlah tawakkal, melainkan bermalas-malasan. Tawakkal yang benar adalah didasari oleh keyakinan kepada Allah bahwa Dialah yang mengatur segalanya, kemudian disempurnakan dengan ikhtiar (usaha) yang maksimal.

  1. Terlalu banyak dosa dan maksiat.

Terlalu banyak doa dan maksiat akan membuat hati kita tertutup debu, memupuskan setiap doa yang dipanjatkan ke langit. Bahkan, dosa yang telampaau banyak dapat menutup pintu rezeki. Jika pintu itu tertutup, maka kita harus membukanya, dan tiada kunci yang dapat membukanya kecuali bertaubat. Jadi, jika kita merasa rezeki seret, cobalah berintropeksi: dosa apa saja yang telah kita perbuat selama ini.

Nabi saw. pernah member nasihat, “Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang dihamramkan rezeki baginya disebebkan dosa yang diperbuatnya.” (H.r. Tirmidzi dan al-Hakim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (H.r. Ahmad).

  1. Proses pencarian rezeki yang tidak bersih.

Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah dalam proses mencarinya dan menjalaninya dibenarkan oleh syari’at? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu atau uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dan sebagainya  akan membuat rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang yang kita dapatkan, nmaun berkah dari uang tersebut ternyata telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segeralah bertaubat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Potret manusia di zaman sekarang memang telah buram. Demi syahwat duniawi, banyak orang yang menjual kejujurannya dan menempuh cara-cara keji untuk menjadi kaya. Akhirnya, mark up sana mark up sini demi mencari uang melimpah. Sikut sana sikut sini, kalau perlu pakai dukun atau cara-cara yang zalim. Tak mengherankan, karena proses pencairan rezeki yang tidak bersih inilah Allah lalu murka dan menyumbat pintu rezekinya.

Sebagai seorang Muslim, jangan pernah kita menutup pintu rezeki dengan mengumbar dosa dan maksiat. Apabila rezeki itu datang terlambat, janganlah kita berputus asa dan menempuh cara-cara dosa untuk mendapatkannya. Rasulullah saw. telah bersabda, “Sesungguhnya Rahul Qudus (Malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya.” (H.r. Abu Dzar dan al-Hakim)

  1. Dalam bekerja sering melupakan Allah swt..

Ciri-ciri paling mudah ditemui adalah meremehkan shalat. Ketika kita benar-benar sibuk dan tiba waktunya shalat, kita cenderung menunda-nunda. Seolah lebih mementingkan kerjaan daripada shalat. Bahkan yang berbahaya lagi adalah sampai meninggalkan shalat gara-gara sibuk dengan pekerjaan. Atau bisa juga berupa ketidakjujuran dalam berbisnis. Kita menganggap tidak ada yang tahu kebohongan kita. Itu artinya, kita sudah melupakan Allah yang selalu mengamati dan mengetahui setiap tindakan kita. Kalau kita lupa kepada-Nya, maka Dia pu  akan melupakan kita.

Betanyalah pada diri sendiri, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa menbaca Al-Qur’an, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Para salafus shalih member petuah, bahwa bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain, tetapi bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah swt..

  1.  Enggan bersedekah

Siapa pun yang kikir dan pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya pun akan sulit. Sebaliknya, sedekah adalah penolak balak, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulirnya itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat.

Allah swt. berfirman, “Perumpamaan (Nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebulir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (gnajaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Al Baqarah [2]: 261)

Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Dia akan membukakan pintu-pintu rezki-Nya untuk kita. Amin

  1. Mengapa Keberkahan Harta.

Mengapa uang yang banyak tidak selalu menjadi jaminan kebahagiaan? Mengapa rumah yang besar dan megah tidak selalu melahirkan kebahagiaan dan kemuliaan? Mengapa istri yang jelita atau suami yang tanpan tidak selalu mendatangkan kebahagiaan dalam berumah tangga? Mengapa ilmu yang luas tidak mengangkat derajat pemiliknya, dan justru menghinakannya? Padahal, mereka berusaha mencari dan mendapatkannya melalui perjuangan yang susah payah, tetapi ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Bukan kebahagiaan dan ketentraman yang diperoleh, melainkan malapetaka. Mengapa bisa demikian? Peyebabnya sederhana sekali, yakni semua yang dimilikinya itu tidak berkah!

Berkah atau barakah merupakan kata yang penuh makna. Dari zaman ke zaman, umat Islam berlomba-lomba untuk mencari keberkahan tersebut di dalam setiap segi keberkahan tersebut di dalam setiap segi kehidupannya. Ada yang mengharapkan keberkahan ilmu, keberkahan tempat, dan sebagainya.

Dalam hidup ini, setiap manusia tentu ingin memperoleh keberkahan dalam hidupnya. Karena itu, kita selalu berdoa dan juga meminta orang lain mendoakan agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita upayakan memperoleh keberkahan dari Allah swt..

Dalam hal apa pun; uang, rumah, istri, suami, harta, pangkat, maupun jabatan, yang harus kita khawatirkan terhadap semua itu adalah tidak adanya berkah dari Allah. Acapkali kita temukan, atau malah kita merasakan sendiri, orang menjadi sengsara dengan segaka yang dimilikinya. Oleh karena itu, kita patut mencurigai, jangan-jangan sesuatu yang kita miliki, dalam mengusahakannya tercemari oleh hal-hal yang kurang berkah.

Kita lihat, misalnya, suatu rumah tangga yang penuh dengan percekcokan. Sebenarnya yang harus dicurigai adalah jangan-jangan prosedur, keilmuan, dan etika dalam berumah tangga tidak cocok dengan yang disyari’atkan Allah. Atau, uang yang banyak malah membuat pusing pemiliknya, ilmu yang luas malah menghinakan dirinya. Ini pasti procedure dalam mencari dan mengamalkannya bercampur dengan hal yang tidak disukai Allah. Oleh karena itu, apalah artinya kita memiliki sesuatu tetapi malah menghinakan dan menyengsarakan?!

Secara harfiah, berkah atau barakah memiliki arti an-nama wa az-ziyadah (tumbuh dan berkembang). Dengan pengertian lain keberkahan adalah kebaikan yang bersumber dari Allah semata, yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya. Sehingga, apa yang kita peroleh dan miliki apabila membawa pengaruh negatif, maka hal itu menunjukkan ketidakberkahannya.

Berakah dari harta yang kita miliki adalah bukan hanya itu bertambah banyak, tetapi juga ketika melalui harta itu kita bisa lebih mendekatkan diri dan semakin bersemangat dalam kebaikan serta beribadah kepada Allah swt.. Kalau mau melihat contoh riil dari keberkahan harta, lihatlah Rasulullah dan para sahabatnya; mereka kaya, harta mereka banyak, namun demikian intensitas ibadah mereka tidaklah turun dikarenakan kesibukan mengurus harta dan pernak-pernik kemewahan dunia. Sebab, harta hanya diletakkan di tangan mereka, bukan di hati mereka.

Harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Sedikit tapi berkah lebih baik daripada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal. Karena Allah tidak mungkin memberikan harta yang haram.

Harta haram apa pun bentuknya: hasil mencuri, merampok, menipu, korupsi, dan sebagainya, hanya akan menuntun pemiliknya untuk menjadi rakus dan kejam. Seorang yang terbiasa mengkonsumsi harta haram jiwanya akan meronta-ronta. Merasa tidak tenang, tanpa diketahui sebabnya. Kegelisahan demi kegelisahan akan terus menyeretnya ke lembah yang semakin jauh dari Allah. Lama kelamaan ia merasa lagi berdosa dengan kemaksiatan.

Allah sangat membenci harta haram dan pelakunya. Seorang yang terbiasa menikmati harta haram doanya tidak akan diterima Allah swt.. Rasulullah pernah menceritakan bahwa ada seorang musafir, rambutnya kusut, pakaiannya kumal, menengadahkan tangannya ke langit memohon: “Ya Rabbi… Ya Rabbi…” Sementara pakaian dan makanannya haram, mana mungkin doanya akan diterima? (H.r. Muslim)

Bukan hanya doanya yang ditolak, sedekahnya pun akan ditolak. Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang mendapatkan hartanya dengan cara haram, lalu ia bersedekah dengannya, ia tidak akan mendapat pahala, dan dosanya tetap harus ia tanggung.”

Imam Adz-Dzahaby menambahkan dalam riwayat lain: “Bahwa harta tersebut kelak akan dikumpulkan lalu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.” Maka tidak ada jalan lain untuk meraih keberkahan kecuali hanya dengan merebut harta halal sekalipun sedikit dan nampak tidak berarti.

Apabila menusia memperoleh keberkahan dari Allah swt., maka kehidupannya akan selalu berjalan dengan baik, rezeki yang diperolah akan selalu cukup atau bahkan melimpah, sedangkan ilmu dan amalanya selalu member manfaat yang besar dalam kehidupannya. Di sinilah makna penting memahami hakikat keberkahan, agar kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya.

Pengertian barakah dapat pula diindentikkan dengan pernyataan Rasulullah saw., “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka. Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka dia orang merugi. Dan barangsiapa yang dihari ini lebih baik dari kemarin maka dialah orang yang beruntung.” Jadi, indikasi barakah adalah kualitas hidup yang semakin hari semakin baik.

Ciri utama harta yang berkah adalah jika ia selalu membuat pemiliknya semakin dekat kepada Allah swt.. Jika diurai, maka didapatkan cirri-ciri sebagai berikut:

  1. Menambah ketakwaan

Katakanlah: “Tidak sama buruk (harta yang haram) dengan yang baik (harta halal), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapay keberuntungan.” (Q.s. Al-Maidah [5]: 10).

Perhatikan dalam ayat ini, setelah Allah menegaskan pentingnya kualitas harta halal, Ia pun lalu memerintahkan untuk bertaqwa, suatu indikasi bahwa tidak mungkin harta haram akan membantu mencapai ketakwaan.

  1. Memberikan rasa aman

Dalam surat Ibrahim: 24-26, Allah mengumpamakan setiap kebaikan (kalimatun tayyibah) termasuk di dalamnya harta yang halal dengan sebuah pohon yang kokoh, akarnya menghujam ke bumi, cabangnya setiap saat. Sebaliknya, setiap keburukan (kalimatun khabitsah) termasuk harta yang haram, akan menjadi pohon yang goyah, akarnya hanya melingkar dipermukaan bumi, tidak berbuah serta tidak memberikan rasa aman bagi siapa saja yang berteduh di bawahnya.

  1. Mengantarkan kepada amal shalih
  2.  
  3. Mendorong untuk bersyukur

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.s. Al-Baqarah [2]: 172)

Administrator

  27 Sep 2017

Kontak Kami