Bab 6

Kita pernah melihat atau mendengar kisah seorang Muslim, atau bahkan orang terdekat kita, yang murtad hanya karena iming-iming satu kardus mie instan, roti, atau biaya pendidikan. Keimanan mereka terlah tergadaikan begitu saja dengan kekufuran. Semua itu terjadi tiada lain karena belitan kemiskinan. Na’udzubillah!

  1. Meluruskan Pandangan tentang Zuhud

Seorang sahabat datang kepada Nabi saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan, niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia.” Rasulullah saw. menjawab, “Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja), maka kamu akan dicintai Allah; dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” (H.r. Ibnu Majah)

Terang sekali bahwa zuhud adalah ajaran suci yang di ajarkan oleh Nabi saw.. Yang jadi pertanyaan kemudian adalah “Apa sebetulnya makna zuhud itu?” sebelum menjawabnya, mari kita ketahui terlebih dahulu tipe-tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya.

Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidup:

  • , orang berharta dan meperlihatkan hartanya. Orang seperti ini biasanya mewah gaya hidupnya; untung perilakunya masih sesuai dengan penghasilannya, sehingga secara financial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia menjadi hina kalau bersikap sembong dan merendahkan orang lain yang dianggap tidak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jika berendah hati dan dermawan.
  • , orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya di luar kemampuannya. Hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada keliatannya. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Tampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengertahui keadaan yang sebenarnya.
  • , orang tak berharta tetapi berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina apabila menjadi peminta-minta. Namun, orang seperti ini tetap berpeluang menjadi mulia jiga sangat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menunjukkan harapan untuk dikasihani, tidak menunjukkan kemiskinannya. Ia tetap tegar dan memiliki harga dirinya.
  • , orang yang berharta tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang mulia dan memiliki keutamaan. Dia mampu membeli apa pun yang dia inginkan, namun berhasil menahan dirinya untuk hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tak berbiaya tinggi tidak menjadi bahan iri dengki orang lain, dan tertutup  baginya peluang menjadi sombong dan riya’. Dan yang menawan, ia akan menjadi contoh kebaikan yang tidak habis-habisnya dibicarakan. Orang bersahaja (tentu juga tidak kikir), sungguh ia akan menerbarkan pesona kemuliaan tersendiri di tengah masyarakatnya.

Setelah mengupas empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan daya hidupnya, saatnya kita bedah  makna hakiki ajaran Islam tentang zuhud. Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi. Zuhud berarti kita lebih yakin dengan apa yang ada ditangan Allah. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun harta yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hatinya merasa tentaram, karena ketentraman yang hakiki adalah ketika kita yakin dengan janji dan jaminan Allah.

Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham yang dimiliki, sebanyak apa pun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tentram dengan jaminan semua itu. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita kecuali atas izin Allah swt.. Sekali lagi perlu kita tegaskan, ketentraman sejati adalah keyakinan kita akan janji dan jaminan Allah.

Begitulah, orang yang zuhud terhadap dunia ia melihat apa pun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah, karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan lebih tahu dari kita sendiri.

Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin. Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara. Seperti halnya seorang tukang parker. Ya, tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperlihatkan sebagai perumpamaan dari proses ini. Mengapa mereka tidak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja.

Luar biasa tukang parkir ini. Ia petantang-petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan parkirnya, bahkan kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress atau frustasi. Mengapa demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa memiliki, melaikan hanyak merasa dititipi, Ini rumusnya!

Seharusnya begitulah sikap kita terhadap dunia ini. Punya harta melimpah, deposito juataan rupiah, mobil keluaran terbaru paling mewah, tidak menjadi sombong sikap kita kerenanya. Begitu juga sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan putus asa. Semuanya biasa-biasa saja. Bukankah semua hanya titipan Allah semata? Suka-suka yang menitipkan dong; mau diambil sampai habis tandas sekalipun, silakan saja, karena kita hanya dititip oleh-Nya.

Rasulullah saw. dalam hal ini bersabda, “Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan, hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah itu akan tetap menimpamu.” (H.r. Ahmad)

Zuhud tidaklah identik dengan kemelaratan, kemalasan bekerja, atau kebencian terhadap dunia. Zuhud adalah kepuasan hati (qana’ah) dengan apa yang diberikan oleh Allah swt.. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada harta dan hal-hal bersifat material lainnya. Orang yang merasa puas dengan apa yang diberikan oleh Allah sembari meniadakan keterikatan hatinya dengan harta dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, maka tidaklah ia kehilangan sifat zuhud sekalipun secara factual ia memang kaya raya.

Sebaliknya, seseorang yang hatinya dibuat oleh dunia dan terikat kepada sekalipun ia seorang miskin, maka dia bukanlah seorang yang zuhud. Selama dalam hatinya terdapat kecintaan dan keterikatan kepada dunia, maka hilanglah zuhud dari dalam dirinya dan terkikislah agamanya.

Rasulullah saw. bersabda, “Cinta yang sangta terhadap harta dan kedudukan dapat mengikis agama seseorang.” (H.r. Ath-Thusi)

Utsman  bin Affan adalah seorang kolongmerat yang kaya raya. Ia termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk surga. Demikian pula halnya dengan Abdurrahman bin ‘Auf. Ia juga sukses dalam  bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh, ia pun termasuk sahabat yang dijamin masuk surga. Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justru ia termasuk orang yang zuhud. Nyata sekali, bahwa Zuhud tidak berarti harus menjadi miskin (tidak berharta), namun hakikatnya zuhud letaknya adalah di hati. Orang yang zuhud tidak menjadikan harta dan dunia sebagai tujuann, melainkan sekadar sarana atau jembatan untuk mancapai tujuan utama, yaitu Allah swt..

Setelah tercerahkan oleh firman Allah dan sabda Nabi tentang bagaimana menyikapi harta dan kekayaan, maka kini saatnya kita meruntuhkan mental miskin dan menggantinya dengan mental kaya seorang zahid (orang yang zuhud).

Administrator

  18 Sep 2017

Kontak Kami