Bab 5

  1. Kekayaan adalah Ujian dari Tuhan

Dalam Islam, harta kekayaan memiliki posisi yang sama dengan kemiskinan, yakni sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surge, sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Ya, semuanya adalah ujian!

Allah swt. menegaskan: “Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Q.s. Al-Anbiya’ [21]: 35)

Rasulullah saw. bersabda: “Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta benda.” (H.r. Tirmidzi)

Sejarah dan juga ajaran-ajaran Islam sebenarnya penuh dengan pelajaran yang berharga bagi mereka yang ingin meraih kesejahteraan dan kekayaan dengan benar. Nabi Muhammad saw. adalah satu-satunya nabi yang jadi pedagang. Prinsip beliau adalah berdagang dengan jujur. Rasulullah sendiri adalah orang yang berlimpah harta. Dan sebaik-baik harta adalah kalau dimiliki oleh orang yang shalih, karena ia akan bermanfaat di jalan yang benar.

Jadi, orang yang shalih bukanlah orang memilih meninggalkan harta, melaikan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu, seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:

  • , menempuh cara halal untuk memperoleh harta.

Terkadang untuk memperoleh unag dan kekayaan, tidak sedikit yang menempuh cara-cara haram. Mereka tidak merasa bersalah bahwa uang yang dibawa pulang untuk istri dan anak mereka adalah hasil korupsi. Mencuri, merampok, atau berjudi. Menjemput rezeki dengan cara yang haram, sesungguhnya hanya akan berbuah kemiskinan, baik di dunia maupun di akhirat.

Pada hari Kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya; dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. pernah menasihati para sahabat dengan melontarkan satu kisah tentang seseorang yang mengandakan perjalanan panjang, mukanya kusut masai, dan tubuhnya berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit sambil berucap, “Ya Rabbi… ya Rabbi…!” Padahal makanan orang tersebut adalah haram, minumannya haram, pakaiannya pun haram, dan diberi makan dari cara yang haram. Dengan tegas Rasulullah bersabda, “Bagaimana mungkin doa orang tersebut akan dikabulkan?!”

Rasulullah juga berpesan, “Janganlah kamu mengagumi orang yang terbentang kedua lengannya menumpahkan darah. Di sisi Allah dia adalah pembunuh yang tidak mati. Jangan pula kamu mengagumi orang yang memperoleh harta dari yang haram. Sesungguhnya bila dia menafkahkannya atau bersedekah makan tidak akan diterima oleh Allah dan bila disimpan hartanya tidak akan berkah. Bila tersisa pun hartanya akan menjadi bekalnya di neraka.” (H.r Abu Dawud)

Mari kita audit kembali harta dan sumber penghasilan kita selama ini, jangan-jangan ada yang berasal dari sumber yang tidak halal. Hanya dari yang halal sajalah ridha Allah akan turun, doa akan terkabul, dan rezeki pun akan semakin berlimpah.

  • , harta itu tidak menyebabkan dirinya sombong.

Orang yang sukses mengelola hartanya adalah orang yang dengan hartanya justru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf, Padahal ia termasuk orang yang dijamin masuk surge, pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya mengapa menangis, ia menjawab, “Aku takut, hanya yang kunikmati di dunia inilah yang manjadi ganjaranku dari Allah.”

Ketakutan Abdurrahman bin ‘Auf ini sangat beralasan, karena Rasulullah saw. telah mewanti-wanti akan datangnya masa di mana manusia akan bermegah-megah dengan harta dan mereka saling berbuat zalim. Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan: “Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu, yaitu penyakit sombong, kufur nikmat, dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan, dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas).”

  • , menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt..

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik harta yang shalih (baik) adalah yang ada pada orang yang shalih.” (H.r. Ahmad)

Di tangan orang yang shalih harta dan kekayaan akan digunakan untuk kemanfaatan yang diridhai Allah, yakni untuk beribadah, berderma, dan bersedekah, memperjuangkan agama Allah, serta menolong sesama. Sementara harta yang ada di tangan orang zalim hanya akan menghasilkan kesengsaraan bagi sekitarnya. Ia akan bersikap bakhil dan memanfaatkan harta kekayaan itu untuk kesombongan diri, kezaliman, serta hal-hal yang tidak diridhai Allah swt..

  • , menjadi media silaturahmi.

Infak adalah baik, dan infak kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena, selain bernilai taqarrub, perbuatan itu juga merupakan upaya silaturahmi. Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan sedekah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua sedekah, yakni shadaqah dan shilah (menyambung kekerabatan).” (H.r. Tirmidzi)

  • , menjadi sarana untuk berjuang.

Perjuangan Islam jelas tidak akan mengkin tanpa dukungan financial. Kekuatan kaum kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal umat Islam, dan salah satu kekuatan itu adalah kekuatan maliyyah (Finansial).

Sebagian kekayaan, kefakiran, dan kemiskinan pun menjadi ujian bagi hamba Allah di muka bumi. Kemiskinan dapat membawa seorang yang miskin ke derajat tinggi di surga, karena keikhlasan, kesabaran, dan ketabahannya diuji Allah dengan kemiskinan. Namun demikian, kemiskinan juga dapat melemparkan manusia ke dalam jurang api neraka karena kekufurannya, 

Administrator

  18 Sep 2017

Kontak Kami