Lantas, mengapa Rasulullah saw. lebih memilih terlihat seperti seorang yang miskin, bahkan sangat miskin? Tidur hanya beralaskan pelepah pohon kurma, dan kadang-kadang perutnya harus diganjal batu karena berhari-hari tidak makan. Itu semua bukan karena beliau miskin, tetapi beliau menerapkan prinsip zuhud dan kesederhaan. Beliau lebih banyak mengamalkan hartanya untuk kepentingan umat, mengalahkan kepentingan pribadi. Ada satu riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah itu pada bulan Ramadhan kalau bersedekah laksana angin. Artinya, setiap bertemu orang langsung menglurukan tangan untuk bersedekah. Ada juga riwayat shahih yang menceritakan bahwa Rasulullah setiap hari member makan seorang pengemis Yahudi buta, padahal sang Yahudi itu seringkali menggosipkan (berkata buruk tentang) berliau.
Karena itu, Jangan pula berkata menjadi seorang yang miskin, dan jangan pula berkata bahwa aku ingin kaya, tetapi katakanlah bahwa “Aku Harus Kaya!” Dengan menjadi kaya, maka kita bisa member manfaat yang sangat besar kepada keluarga , umat Islam, dan dunia pada umumnya.
Dalam Islam, harta kekayaan memiliki posisi yang sama dengan kemiskinan, yakni sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surge, sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Ya, semuanya adalah ujian!
Allah swt. menegaskan: “Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Q.s. Al-Anbiya’ [21]: 35)
Rasulullah saw. bersabda: “Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta benda.” (H.r. Tirmidzi)
Sejarah dan juga ajaran-ajaran Islam sebenarnya penuh dengan pelajaran yang berharga bagi mereka yang ingin meraih kesejahteraan dan kekayaan dengan benar. Nabi Muhammad saw. adalah satu-satunya nabi yang jadi pedagang. Prinsip beliau adalah berdagang dengan jujur.
18 Sep 2017