Argumentasi bahwa ‘Islam harus kaya’ diperkuat pula dengan adanya kewajiban berzakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagia kaum Muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: “Kalau punya harta, zakatlah. Kalau tidak punya, ya tidak usah mengeluarkan zakat.” Dalam presprektif fikih, pemahaman semacam ini tidak salah, bahkan sangat benar. Tetapi, semangatmya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah berzakat seharusnya dipahami: “Carilah uang dan kumpulkanlah harga agar engkau dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat.”
Perintah berzakat hendaknya dipahami dengan pola piker dan semngat sebagaimana shalat, di mana untuk bisa melaksanakan shalat kita hasrus menempuh beragam perjuangan yang menjadi kosekuensinya; muali dari mencari penutup aurat, mencari alat untuk bersuci dari hadats dan najis , mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, dan seterusnya. Jika pola piker dan semangat ini diterapkan pula dalam perintah zakat, maka perjuangan yang dengan mencari harta atau alat untuk berzakat. Jadi, kita memang harus kaya!
Paparan analistis terhadap firman Allah dan Sabda Nabi di atas memetahkan anggapan yang masih dianut secara kuat oleh sebagian orang bahwa kesalehan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surge. Sebaliknya, orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat surge. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang meberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-jauhnya demi emncapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau, mungkin juga menyitir hadist shahih tentang zuhud, namun dengan pemahaman yang salah.
Ketika menulis buku ini, seorang kawan melontarkan protes kepada penulis. Ia mengatakan, “Mengapa kita harus kaya, lha wong Rasulullah saja miskin dan mencintai kemiskinan?!” Untuk memperkuat protesnya itu, ia menyodorkan dua hadits dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
“Ya Allah, langsungkan hidupku dalam kemiskinan, dan wafatkan aku dalam keadaan miksin, dan bangkitkan pula aku kembali dalam kelompok orang-orang miskin.” (H.r. Bukhari)
“Kami, keluarga Muhammad sering hidup selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), karena makanannya hanya kurma dan air. “ (H.r. Muslim)
Kepada kawan tersebut, saya lalu mengatakan bahwa Rasulullah saw. adalah orang kaya namun bepola hidup sederhana. Apa buktinya bahwa Rasulullah kaya? Silahkan baca lagi Sirah
18 Sep 2017