Bab 2

Mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari itu semua adalah: Jika kekayaan dapat memelihara ketakwaan, maka Menjadi Miskin itu Bahaya. Bagaimana tidak, kerena miskin, ada suami yang rela menjual istrinya. Karena miskin, ada ibu yang stress sehingga tega membakar anak-anaknya. Kemiskinan pula yang membuat seseorang terpaksa mencopet, mencuri, dan mengemis. Kemiskinan pula yang menggoyahkan iman seseorang karena diiming-imingi hidup yang nyaman atau bahkan sekerdar pakaian dan mie instan. Kerena itu, seklai lagi, umat Islam harus kaya!

Diriwayatkan dari Abi Abdillah Tsauban bin Bujdad, Bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (H.r Muslim)

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist di atas, antara lain: Pertama, di hadapan seorang Muslim, terbuka lebar banyak sekali pintu untuk berbuat kebaikan dengan harta dan kekayaan. Kedua, menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) yang dilakukan seorang Muslim, bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia.

Dalam hadits lain disebutkan, “Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (memerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adlah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (H.r. Muslim)

Mungkinkah kita dapat berinfak secara sempurna tanpa memiliki harta? Tentu tidak! Harta –seberapa pun banyaknya atau sedikitnya—mutlak dimiliki jika ingin berinfak. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan berjihad (seperti Q.s. Ash-Shaff [61]: 10-11), selalu saja ada kata ‘jihad dengan jiwa’ yang disandingkan dengan ‘jihad dengan harta’. Bahkan, berjihad dengan harta selalu didahulukan daripada berjihad dengan jiwa, kecuali pada satu ayat saja, yakni surat At-Taubah ayat 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunung.” (Q.s. At-Taubah [9]: 111)

Bahkan, ada hadist lain yang lebih tegas memerintahkan umat Islam agar kaya, yaitu sabda Nabi saw., “Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat.” (H.r. Ath-Thabrani dan Asy-Syihab)

Administrator

  18 Sep 2017

Kontak Kami