Melalui ayat tersebut, dengan jelas Allah memfirmankan bahwa apabila kita menginginkan selamat dari azab yang pedih, maka kita harus (1) beriman kepada Allah swt., (2) beriman kepada Rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah dengan (3) harta dan (4) jiwa.
Dalam firman Allah tersebut, kata “harta” disebut lebih dahulu daripada “jiwa”. Hal ini tentunya bukan suatu kebetulan maupun ketidaksengajaan atau sesuatu yang biasa-biasa saja. Allah Mahasempurna, Mahawaspada, dan Mahateliti. Jadi, tidak mungkin Allah berfirman dan menyusun Kalimat-Nya dengan sembarangan, melaikan pasti ada makna maupun maksud dan tujuan yang terkandung di dalamnya. Allah mendaulukan kata “harta” daripada “jiwa”, menyiratkan suatu perintah nahwa kita harus kaya demi keberlangsungan jihad di jalan-Nya.
Tetapi, bukanlah Islam melarang berfoya-foya dengan kekayaan dunia? Memang benar, Islam sangat membenci hgaya hidup berfoya-foya. Tetapi isalam sangat menganjuran pemeluknya agar hidup sederhana dengan kekayaan yang dimilikinya. Kesederhanaan haruslah menjadi akhlak kita. Namun, hidup sederhana tidak berarti harus miskin dan serba kekurangan. Justru kesederhanaan menuntut adanya kekayaan.
Kaya juga tidak berarti kecongkakan serta kesombongan. Hal ini bisa dibuktikan melalui pemahaman terhadap ayat di atas, yaitu Q.s. Ash-Shaff [61]: 10-11. Pada ayat tersebut , kita temukan adanya kalimat yang mendahului kata “harta”, yaitu kalimat “beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Itu berarti kalau kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, akhlak itu harus Rabbani serta meneladani perilaku Rasulullah saw.. Sehingga, meskipun kita kaya raya, kekayaan kita tidak akan membuat kita congkak dan sombong, apalagi melupakan Tuhan.
Lalu, untuk apa umat Islam harus kaya? Tentu saja untuk beribadah kepada Allah, berdakwah, membantu yang miskin, dan untuk umat. Seluruh harta kekayaan tersebut digunakan untuk meyembah Allah dengan bersungguh-sungguh secara total dan juga untuk amal-amal sosial.
Bagiaman seseorang dapat Shalat dengan tenang sementara perutnya kelaparan? Bagaimana dapat berzikir tenang di tengah tangis anak yang meminta susu atau makanan? Bagaimana mau bersedekah, zakat, ataupun haji bila tidak memiliki uang? Bagaimana mau membangun masjid, mushalla, madrasah, pesanatren, atau panti asuhan kalau umat Islam sendiri tak memiliki dana yang cukup untuk membangun semua itu?
Tentang hal ini Rasulullah saw. bersabda, “Harta kekayaan adalah sebaik-baiknya penolong bagi pemeliharaan ketakwaan kepada Allah.” (H.r. Ad-Dailami)
18 Sep 2017