Alhamdulillah, Sekarang Aku Kaya!

  1. Alhamdulillah, Sekarang Aku Kaya!

Rumah megah, kendaraan mewah, perabotan luks seta harta menumpuk sudah pasti menjadi impian banyak orang. Juju saja, hampir semua orang menginginkan dirinya berkecukupan kebutuhan materinya. Dengan harta yang bergelimang, orang beranggapan bahwa semuanya bisa diraih, termasuk kebahagiaan.

Namun, kekayaan yang bersifat kebendaan itu sejatinya semu jika didasari dengan kekayaan hati. Kekayaan materi bukanlah factor utama menjadikan seseorang bisa menuai kebahagiaan, akan tetapi kekayaan jiwalah yang sesungguhnya menjadi modal terpenting. Sebab, materi jika tidak dikelola dengan baik justru bisa menjadi malapetaka.

Banyak contoh membuktikan hal itu. Qarun, misalnya, ia justru tenggelam ke dalam perut bumi lantaran saking gandrungnya terhadap dunia. Karenanya, agar kita tidak terjebak ke dalam orientasi materi semata, Islam mengajarkan sikap qana’ah (menerima pemberian Tuhan dengan lapang dada).

Seorang muslim semestinya menyadari bahwa kekayaan hakiki itu letaknya ada pada keikhlasan jiwa dan kerelaan hati menerima karunia Ilahi, seberapa pun besarnya. Harta kekayaan di dunia sejatinya hanyalah titipan dan amanah Allah sawt. Yang harus dimanfaatkan di jalan keridhaan-Nya. Itulah hakikat kekayaan yang sebenarnya.

Kekayaan hati dapat menentramkan jiwa, dapat mengubah kecewa dan duka cita menjadi suka cita, dapat mengubah perasaan kurang menjadi kecukupan, dan mengubah kerugian menjadi kenikmatan. Seorang Muslim yang senantiasa dekat dengan Allah, dialah yang dapat mewujudkan kebahagiaan hakiki ini.

Rasulullah saw., bersabda, “Sesungguhnya rakus itu miskin. Sedangkan menahan diri adri sifat rakus itu kaya. Barangsiapa menahan diri dari meminta-minta kepada orang, maka bebaslah dia adri ketergantungan kepada mereka.”

Dapat disimpulkan bahwa hakikat kekayaan ada pada sifat puas, menerima, dan tidak meratapi “ketidakkkayaan” yang diberikan Allah. Dengan bahasa lain, kekayaan sejati terletak dalam hati, di antaranya beruba qana’ah atau menerima segala pemberian Allah dengan lapang dada setelah melakukan usaha keras untuk menjemputnya. Seorang yang qana’ah tidak pernah mengeluh apalagi meminta-minta kepada selain Allah. Ia mengemis dan meminta hanya kepada Allah semata. Meski secara materi mereka miskin, tetapi sejatinya mereka adalah kaya. Karena hati mereka puas dan bahagia dengan apa pun serta seberapapun pemberian Tuhannya.

Hal ini ditegaskan pula oleh Nabi melalui satu sabdanya yang singkat namun gambling. “Kaya bukan karena banyak harta, tetapi kaya adalah kayanya hati.” (H.r. Bukhari)

Seseorang yang kaya hati, ia akan terus menikmati kebahagiaan walaupun secara materi ia dibilang miskin. Mungkin ia hanya tinggal dalam gubuk kecil dengan perabot yang sangat sederhana. Pekerjaannya punhnaya kuli bangunan. Tetapi, ia memiliki kekayaan yang tidak dimiliki orang lain, yaitu kebahagiaan. Istrinya shalihah, anak-anaknya cerdas dan rajin beribadah, dan kemiskinan tidak membuat mereka kehilangan senyum canda dan tawa keluarga. Setiap hari mereka rukun dan selalu shalat berjamaah serta bertadarus Al-Qur’an bersama. Rumah tangga seperti inilah yang dirahmati Allah dan menjadi penyejuk hati (qurratu’ain). Suasana keluarga seperti inilah yang pantas menyandang predikat: “Rumahku, Surgaku!”

Sebaliknya, seseorang yang kaya harta tetapi miskin hatinya, ia tidak akan pernah merasakan lezatnya bahagia. Rumahnya memang megah, mobilnya pun mewah, dan hartanya juga berlimpah. Semua kekayaan telah ia miliki, dan hanya satu yang belum dimilikinya, yaitu kebahagiaan. Ia selalu cemas jika ada pemilik perusahaan lain hendak menyaingi perusahaannya. Setiap hari ia memburu kekayaan duniawi agar menjadi manusia terkaya. Ketika telah menjadi terkaya, ia dicekam ketakutan jika hartanya dicuri orang atau bahkan nyawanya melayang. Ia takut bangkrut, sehingga dunia semakin leluasa memperbudaknya. Hal ini diperparah dengan kondisi keluarganya yang amburadul; anak-anak saling berebut kekayaan dan istrinya suka foya-foya. Mereka tidak pernah akur. Tidak ada canda dan tidak pula tawa di tengah keluarga. Apalagi untuk shalat bersama, mereka tidah pernah memikirkan itu. Kasihan, “rumah megahnya justru menjadi neraka baginya!”

Seorang bijak perna menulis: “Uang dapat member Anda sebuah istana yang sangat megah, penuh dengan karya-karya seni bernilai tinggi. Uang juga dapat memenuhi rumah Anda dengan perabotan terbaik dan mobil-mobil mewah di garasi. Tetapi, uang tidak dapat member Anda rumah yang penuh kasih dan penghargaan tulus dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Uang dapat di pakai untuk membeli ranjang emas murni, namun uang tidak dapat membeli istirahat satu menit saja yang disertai dengan damai di hati.”

Saudaraku, kekayaan duniawi dengan segala gemerlapnya yang sering melenakan hati, sesungguhnya tidak berharga sedikit pun di sisi Allah swt.. Jadi, mengapa kita mesti menghinakan diri dengan menghamba kepada dunia, dan mengapa pula kita seringkali mengeluh dan menyesal hanya lantaran ada sedikit harta yang hilang?

Administrator

  27 Sep 2017

Kontak Kami