2.Klasifikasi Gejala Pemakaian dan Klasifikasi Zat Psikoaktif

Untuk dapat mengetahui lebih lanjut bagaimana efek samping penggunaan zat psikoaktif, Siregar (2000) memberikan gambaran singkat seperti di table 1.2 berikut ini.

a.    Opiat. Bila dikonsumsi zat ini akan member dampak terhadap kondisi psikologis atau fisiologis pada individu. Individu akan mudah merasa gembira, senang, bahagia, dan selalu mudah tertawa. Kondisi fisik pecandu ditandai dengan pernapasan menjadi lambat, aliran darah nadi menjadi tak lancer, sulit membuang air besar, dan mudah merasa ngantuk. Akibatnya, dalam ruang kelas, seorang pecandu sering mengantuk atau tertidur di kelas. Apabila individu merasa sakaw terhadap opiat, ia akan merasa mual-mual, muntah, hidung berair, sendi-sendi tulang merasa sakit, mengigil seolah-olah merasa kedinginan, dan mata membesar. Seandainya kondisi pecandu sudah parah, artinya penggunaan naroba melebihi dosis, akan beraktibat pada kondisi fisik, misalnya teleng mata mengecil, ngantuk berkepanjangan, tekanan darah menurun, napas nadi semakin cepat, pingsan bahkan pecandu akan meninggal secara mendadak.
b.    Obat penenang (tidur). Derivat dari morfin, opium atau megadon dapat dijadikan sebagai obat penenang. Bisanya penggunaa obat ini harus di bawah pengawasan dokter ahli yang menangani seorang pasien yang bermasalah. Namun, dalam kenyataannya, penggunaan obat ini sudah melampaui batas. Akibatnya, seseorang mudah mengalami ketergantungan. Orang yang menggunakan obat ini mula-mula merasa gelisah, mudah marah, bahkan mengamuk. Di sisi lain, si pecandu merasa malas, mengantuk, daya pikir/konsentrasi menurun, bicara dan tindakan lambat. Apabila seorang pecandu tidak menggunakan obat ini, yang dirasakan ialah gelisah, sulit tidur, badan gemetar, danbagi pecandu yang sudah mengalami intoksinasi (keracunan obat ini), akan merasa gelisah, sulit mengendalikan diri, banyak bicara, suka bertengkar, bicaranya tak jelas, jalannya sempoyongan, pernapasan lambat, kesadaran menurun, pingsan dan akhirnya meninggal dunia.
c.    Alkohol. seseorang yang sering mengonsumsi alkohol dapat diketahui dengan melihat roman mukanya. Biasanya seorang pecandu alkohol memperlihatkan roman muka kemerah-merahan. Bukan karena ia merasa malu terhadap orang lain, melainkan karena efek samping dari pengonsumsianalkohol yang berlebihan. Dari segi pribadinya, sering kali orang sulit mengetahui kalau seseorang itu pecandu karena selalu senang atau bahagia. Namun, di sisi lain, pecandu alkohol merasa sulit untuk mengendalikan diri. Seandainya seorang pecandu alkohol mengalami sakaw, yang terjadi dalam dirinya ialah badannya gemetar, muntah-muntah, kejang-kejang, gelisah, sulit tidur, tetapi bisa juga mengalami gangguan jiwa.
d.    Ganja. Pada dasarnya, tiap-tiap pecandu memiliki ketergantungan obat tertentu, yaitu bergantung pada jenis obat apa. Bagi seorang pecandu ganja, akan diketahui gambaran karakteristik pribadinya. Biasanya pecandu ganja sebagai orang yang riang gembira, sikapnya tenang dan santai. Namun, ia kadang-kadang mudah merasa curiga pada orang lain (asing). Gerakan fisiknya menurun dan lambat, mata memerah, daya intelektual menurun dan sering kali tak segan-segan melanggar norma sosial, demi memenuhi keinginan pribadinya (misalnya, menipu orang lain atau mencuri uang agar dapat membeli ganja). Apabila seorang pecandu ganja mengalami sakaw, ia akan merasa gelisah, sulit tidur, dan nafsu makan berkurang/hilang. Bahkan bagi pecandu yang benar-benar mengalami kecanduan ganja (intoksinasi), akan mudah panic, mengamuk, demam, teleng mata membesar, dan mengalami gila (psikosa).
e.    Amfetamin. Bila jenis obat ini dikonsumsi akan member dampak bagi pola kepribadian seseorang. Biasanya pecandu amfetamin akan merasa siap-waspada, percaya diri, banyak bicara, tak mudah merasa capai/lelah, tak memiliki nafsu makan, jantung berdebar-debar, pernapasan dan tekanan darah meningkat. Seandainya seorang pecandu mengalani gejala putus obat, ia akan merasa letih-lesu, apatis, depresi,


Table 1.2 Klasifikasi efek samping penggunaan zat psikotropika (Siregar, 2000)
Zat pisikoaktif    Gejala pemakaian    Abistinensi    Intoksinasi
Opiat    Gelisah, napas nadi lambat, sulit buang air besar, ngantuk    Gelisah, mual, muntah, mata dan hidung berair, sendi sakit, mengigil, teleng mata besar    Telang mata kecil, ngantuk, tekanan darah turun, napas nadi cepat, pingsan, meninggal
Obat penenang (tidur)    Mula-mula gelisah, ngamuk, ngantuk, malas daya pikir turun, bicara/tindakan lambat    Gelisah, sulit tidur, muntah, gemetar, kejang-kejang.    Gelisah, kendali diri turun, banyak bicara, suka bertengkar, bicara tak jelas, sempoyongan, napas lambat, kesadaran turun, pingsan, bisa meninggal
Alkohol    Gembira, hambatan diri turun, muka kemerahan    Gemetar, muntah, kejang-kejang, gelisah, sukar tidur, gangguan jiwa    Gelisah, tingkah laku kacau, kendali diri turun, banyak bicara, bicara kacau, ngantuk, intoksinasi, patologi
Ganja
    Gembira, melayang, santai, tenang, kepala berat, intelektual terganggu, gerakan terganggu, mata merah, curiga, moral turun    Tak bisa tidur, gelisah, nafsu makan turun    Panik, ngamuk, gila, demam, teleng mata besar
Amfetamin     Siaga, percaya diri, euphoria, banyak bicara, tak mudah lelah, tak nafsu makan, berdebar-debar, nafas cepat, tekanan darah naik    Lesu, apatis, tidur berlebihan, depresi, (mungkin bunuh diri)    Bedebar-debar, tekanan darah naik, perdarahan, bisa meninggal

dan mungkin banyak tidur (tidur berlebihan). Dampak negative yang pantas diwaspadai bagi pecandu yang mengalami intoksinasi, yaitu kemungkinan terjadinya peningatan detak jantung, tekanan darah, pendarahan, dan samapi meninggal dunia.
Walaupun sudah banyak nyawa yang melayang akibat penyalahgunaan narkoba, samapai sekarang tak ada penurunan dalam penggunaan nakoba, malah disinyalir makin meningkat.
sementara itu, Ray dan Ksir (1999) mengemukakan kasifikasi mengenai jenis-jenis zat psikoaktif yang biasanya dipergunakan para pecandu. Sebenarnya, zat-zat itu diperlukan para dokter untuk menangani pasien yang memerlukan pengobatan itu. Namun, dalam perkembangannya, zat-zat itu disalahgunakan mereka yang tak bertanggung jawab. Akibatnya, kini kondisi sudah kacau tak beraturan, yakni siapa yang berhak menggunakan dan siapa yang berhak memantau penggunannya. Hal ini akibat jaringan distribusi zat psikoaktif yang kuat, bahkan disinyalir mempunyai jaringan internasional. Oleh karena itu, rasanya sulit untuk mengendalikannya.
 


Gambar 1.3 klasifikasi obat-obatan psikoaktif (Ray dan Ksir, 1999)

Administrator

  29 Sep 2017

Kontak Kami