1.Perkembangan Proses Penyalahgunaan Narkoba

Beberapa alasan yang mendorong seseorang menggunakan alkohol (narkoba), diantaranya (1) rasa ingin tahu; (2) ajakan teman; (3) pelarian terhadap masalah; (4) ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga; (5) kuatnya jaringan pemasaran/pendristribusian narkoba.

Seorang ahli yang telah lama menggeluti bidang obat-obatan psikoatif dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, Ike M.P. Siregar (2000) menyatakan beberapa proses perkembangan penyalahgunaan narkoba, antara lain sebagai berikut.
a.    Kontak pertama. Biasanya kontak pertama ini terjadi ketika ada hubungan antara dua orang teman atau lebih dalam suatu kelompok sosial. Mungkin seorang dalam kelompok itu akan menawarkan zat psikoaktif dan yang lainnya merasa terdorong untuk ingin tahu, ingin mencoba atau bisa jadi, ingin menunjukan kehebatannya di antara teman-teman lainnya. Rasa ingin tahu sampai benar-benar mecoba narkoba, mungkin dianggap sebagai salah satu cara atau budaya yang disepakati untuk menunjukan kesetiakawanan sosial. Bila seseorang tak mau mengikuti cara tersebut, kemungkinan akan dikucilkan di antara teman-teman lainnya. Oleh karena itu, bagi individu yang tak memiliki prinsif hidup, cenderung mudah mengikuti saran, bujukan, atau nasihat teman-temannya. Akibatnya, ia akan mengalami ketergantungan terhadap narkoba.
b.    Eksperimental. Setelah mengadakan kontak pertama, beberapa individu berusaha mencoba-coba (eksperimen) dengan zat lain dan dengan cara yang (mungkin) lebih canggih. Sebagian besar yang tahu dan sadar akan akibat buruknya, akan segera berhenti untuk tidak mengonsumsi narkoba dan tak akan melanjutkan lagi. Upaya efektif bagi yang ingin tidak akan mengonsumsi narkoba ialah dengan cara menjauhi lingkungan pergaulan dengan teman-temannya lagi dan mencari pergaulan yang bebas narkoba. Akan tetapi adakalanya, walaupun secara teoritis seseorang tahu bahwa mengonsumsi narkoba itu akan berdampak buruk bagi kesehatan dirinya, ketika ia merasakan betapa nikmatnya narkoba, orang tersebut akan meneruskan perilaku tersebut sehingga menjadi kebiasaan (life-style) dalam hidupnya. Akibatnya, ia akan mengalami ketergantungan narkoba (addiction).
c.    Rekreasional. Dalam tahap ini, zat psikoaktif hanya dipergunakan dalam kesempatan (situasi) tertentu, misalnya saat berkumpul bersama dengan teman-teman lainnya. Penggunaan narkoba masih terkontrol, artinya seorang individu dapat mengatur waktu dan ukuran penggunaan narkoba. Pengguna belum memperlihatkan perubahan-perubahan sikap dan perilaku yang mendasar. Umumnya, mereka masih bisa bersekolah, kuliah atau bekerja seperti biasanya. Sebagian besar pula adri mereka tidak akan meningkat pada tahap berikutnya, artinya mereka belum dianggap sebagai orang yang menyalahgunakan narkoba (junkies). Namun, hal ini perlu diwaspadai karena bagi orang yang menggunakan narkoba (walaupun sekali mencicipi dan merasakan kepuasan tersendiri), suatu ketika ia akan mencobanya lagi sehingga ia tak lagi dapat menguasai diri sendiri, tetapi ia telah dikuasai narkoba. Karena hidupnya terikat narkoba, ia akan sulit menghentikan penggunaan narkoba.
d.    Situasional. Zat psikoaktif mulai dipergunakan untuk menatasi ketegangan psikis, rasa sedih, stress atau kecewa. Tahap ini, frekuensi, jenis zat, dan dosis yang digunakan mekin meningkat. Walau belum ada ketergantungan fisik, ketergantungan psikis mulai dirasakan individu. Gangguan fisik, mental dan masalah-masalah sosial makin tampak jelas. Sebagian dari mereka berlanjut pada tahap intensif, dependensi, dan tahap kompulsif-adiksi.
e.    Intensif penyalahgunaan (dependensi). Individu yang mencapai tahap ini mulai menggunaka zat psikoaktif secara teratur, regular, dan menikmatinya. Bukan hanya pada saat dirinya sedang bermasalah, melainkan pada tidak bermasalah pun (misalnya saat santai, rileks), ia akan menggunakan narkoba. Dalam hal ini, sudah terjadi peningkatan ukuran/ dosis dalam menggunakan narkoba. Bila mereka menghentikan untuk tidak menggunakan narkoba, akan timbul perasaan tak enak, yang disebut sebagai gejala putus obat (sakaw). Oleh kerena itu, mereka tak mungkin berhenti secara total dari penggunaan narkoba.
f.    Kompulsif/ ketergantungan/ adiksi. Kondisi ini merupakan bentuk ekstrem dari dependensi. Upaya untuk memperoleh zat psikoaktif ataupun menggunakan narkoba secara teratur menjadi bagian dalam hidupnya. Penggunaannya pun tak dapat terkendali dengan baik. Pecandu selalu berupaya jangan sampai dirinya merasa mengalami gejala putus obat (sakaw). Kondisi sakaw akan selalu dihindari, kerena itu bahkan mungki individu akan menjadi pengedar (pemasok narkoba). Dengan menjadi pengedar, berarti dirinya selalu memperoleh keuntungan finansial, juga akan memperoleh kesempatan menggunakan narkoba itu sendiri. Dengan demikian, tak mungkin ia akan mengalami sakaw. Sekali mengalami sakaw, saat itu pula ia akan dapat memperoleh narkoba secara mudah.


Gambar 1.2 skema proses perkembangan penyalahgunaan narkoba (diolah kembali dari Siregar, 2000)

Administrator

  29 Sep 2017

Kontak Kami